Tampilkan postingan dengan label KISAH ISLAM. Tampilkan semua postingan
Sikap Dan Perilaku Istri kepada Suami Yang Dilarang Islam
Larangan Islam bagi istri kepada suami :
1. Tidak mentaati perintah suami dalam kebaikan
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki." (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
2. Menolak atau menunda permintaan suami dalam berhubungan intim
Sabda Rasulullah SAW,
Dalam haditsnya yang lain Rasulullah bersabda,
3. Tidak menjaga harta suami
4. Keluar rumah tanpa izin suami
Dalilnya adalah perkataan Sayidina Ali kwj di atas
5. Selalu meremehkan kebaikan yang dibuat suami kepada istri
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
6. Minta cerai tanpa sebab
Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
7. Tidak bersyukur atas segala pemberian suami
Nabi SAW bersabda maksudnya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."
8. Berkata kotor kepada suami, pamer aurat pada orang lain dan tidak berbakti pada suami
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
Empat perempuan yang berada di Neraka yaitu :
- Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinya (memarahinya).
- Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
- Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
- Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.
Doa yang terkabul
Aku inget pas workshop matematika dahsyat, Rabu tanggal 11 bulan lalu. Mas Fahrur yang ngisi workshop cerita. Masnya berdoa kurang lebih seperti ini:
Ya Allah, tunjukkan kepadaku aku bisa mendapatkan uang milayaran..Hm -___- sepertinya nggak gitu-gitu banget sih, tapi intinya seperti itu. Dan ternyata doa itu terkabul saudara-saudara. Yang lebih kerennya lagi, karena Mas Fahrur doanya bilang “tunjukkan”, ya uang itu cuma ditunjukkan. Singkat cerita masnya bener-bener dapet uangnya tapi terus dibawa orang. Ada yang salah? Enggak, cocok kok sama doanya.
Pengalaman sendiri juga pernah. Jadi, kan aku yakin kalau rezeki kita udah dijamin sama Allah. Cuman kadang malu juga kalo sumbernya lewat orangtua terus. Lalu aku doa, berharap rezeki ku ngak melulu lewat orangtua. Dan ya, beneran terjadi saudara-saudara. Tapi … ada tapinya nih. Sumbernya ternyata dari temen-temenku sendiri. Setelah aku doa seperti itu bisa juga nahan cucuran dari orangtua, dan banyak temen yang ngasih –semacam– traktiran. Nggak cuma satu dua tapi banyak!
Sebagai orang yang tau diri (halah, ngaku-ngaku!), kan ya enggak enak kalo di traktir melulu. Harus mbales juga kan? Muhasabah pun terjadi. Doa memang terkabul, yang salah ada di aku. Usahaku menjemput sumber yang lebih baik kurang maksimal, jadinya ya seperti itu. Aku sadar hal ini waktu naik motor dijalan, antara perempatan gramedia menuju kridosono pas pulang dari kampus. Dalam hati aku nyletuk, ya nggak gini-gini juga kali..
Aku benahi doaku lagi, aku spesifikkan tidak lewat orangtua dan teman-teman. Dan beberapa saat setelah itu benar-benar terjadi lagi. Tawaran mengisi pelatihan bareng dosen pun terlaksana. Dapet HR yang cukup besar meskipun saat pelatihan aku lumayan nggak ngapa-ngapain. Bisa dibilang aku malah jadi perserta, bukan mbayar tapi dibayar.
Setelahnya ada workshop lagi, sekarang sebagai peserta. Yang keren itu dapet uang transport yang besarnya sama seperti HR training itu. HR itu honor ya sodara-sodara, jangan ndeso
Cerita-cerita diatas memang cukup keren. Yang setelah ini juga lumayan keren lho, silahkan dilanjut~
Di saat-saat sempit pernah juga. Mungkin nggak keren kalo yang ini. Jadi akukan sering telat masuk kuliah. Nah, pas alasan telatku itu syar’i aku sering doa.
Ya Allah, semoga tidak tertinggal kuliah. Entah dosennya terlambat atau kuliahnya belum dimulai.Kira-kira seperti itu. Dan sering jadi nyata sodara-sodara. Bahkan kadang sampai nggak enak ke dosennya, karena ndoakan yang enggak-enggak. Nggak tau diri banget ya
Di satu kesempatan pernah ngomong ke dosennya “bu, ibu tadi kenapa terlambat (lama)?”
“Oh, saya memang sudah terlambat dari rumah jadi …”
“Ooohh… soalnya saya tadi juga terlambat. Eh, ternyata ibuk lebih terlambat.”
“Iyato?”
“Tadi di jalan ada karnaval, terus muter jauh lewat pinggir kota.”
dst, ya begitulah..
Aku tulis sekarang karena pagi ini perjadi lagi. Tiap pagi kadang kepikiran, berangkat enggak berangkat enggak. Bingung karena udah mepet jamnya, tapi biasanya tetep masuk. Pagi ini ndak masuk dan ternyata kosong.
Bisa juga kebetulan. Dulu pas sering nggak masuk, papasan sama momen kayak gini sering banget. Tapi kalo pas rajin masuk, terus terjadi. Sesuatu deh pokoknya..
Pelajarannya, doa itu juga ada adabnya. Biar terkabul kita juga perlu usaha yang setara. Kadang perlu doa yang spesifik, endak juga ndak apa-apa. Tapi harus siap menerima surprise dari-Nya. Ingat doa Nabi Musa?
Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (QS. Al-Qashas: 24).Doa yang sangat tidak spesifik kan? Tahu apa yang Allah berikan ke Nabi Musa setelah itu? Jaminan keamanan, memperoleh istri, mendapat pekerjaan dan tempat tinggal, mendapat tongkat yang jadi mukjizatnya, diajak oleh Allah untuk menuju lembah penuh berkah, lembah Tuwa. Di lembah ini, Allah berbicara langsung dengan Musa menjadikannya sebagai Nabi. Mendapatkan banyak Mukjizat untuk melawan Firaun. Allah mengangkat saudara Musa, Harun, sebagai Nabi, yang akan membantu Musa dalam berdakwah. Allah memenangkan Musa dan Firaun ditenggelamkan di laut merah.
Sangat keren bukan? Versi lain yang pernah dikisahkan kepadaku. Nabi Musa bedoa meminta makan karena saat itu sedang dalam perjalanan. “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang fakir”. Beliau minta makan, tapi diberikan semua hal tadi. Waaw banget.
Jadi, boleh saja berdoa yang spesifik seperti komiknya mas Zia. Tapi kalau dikabulkan, dapatnya ya cuma itu. Hehehe.. Atau mau berdoa seperti Nabi Musa?
Tadi mau sekalian masukin adab-adab doa, tapi ternyata sudah terlalu panjang -___-
Ujian dan Cobaan: Penggugur Dosa, Penambah Kebaikan
Namun, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).
Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita. Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita. Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt. Semakin berat cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika berhasil melaluinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).
Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu melewatinya. Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam Terakhir
Pentingnya Ilmu Pengetahuan
Allah akan mengangkat derajat orang beriman dan yang berilmu dengan beberapa derajat.
Makam Ahli Puasa Dijaga Malaikat
Namanya ajal, rejeki dan jodoh, tak seorang pun yang akan
mengetahuinya kecuali hanya Allah Ta'ala
Setiap orang tentu saja mengharapkan kenikmatan di dalam
kuburnya ketika dia sudah meninggal dunia nanti. Salah satu
cara untuk mendapatkan kenikmatan itu adalah dengan rajin
berpuasa. Seperti kisah di bawah ini tentang jenazah yang
dijaga oleh malaikat di dalam kuburnya.
Di dalam sebuah riwayat yang berasal dari Sufyan As-Tsauri
diceritakan bahwa ada seorang muslim yang telah
mendapatkan kebahagiaan di alam barzah karena ia rajin
berpuasa. Pada saat meninggal dunia, ia mendapatkan
kenikmatan yang sangat luar biasa karena amalan-amalan
ibadah selama hidupnya di dunia mampu menjaga dirinya.
Kejadian itu terjadi pada saat Sufyan AsTsauri tinggal di
Makkah selama tiga tahun. Ketika itu, Sufyan salut melihat
salah seorang penduduk Makkah yang bernama Abdullah. Pria
itu memiliki kebiasaan beribadah yang sangat istiqomah.
Selain istiqomah puasa sunnah, ia juga selalu datang ke
Masjidil Haram pada waktu terik matahari, lalu melakukan
tawaf dan shalat sunnah dua rakaat.
Sebelum pulang, ia biasa menyalami Sufyan sehingga diantara
keduanya terjalin persahabatan yang sangat erat. Namun,
pada siang hari yang terik, Sufyan tidak lagi menemukan
Abdullah. Tentu saja hal itu membuat dirinya penasaran
karena waktu sudah lepas dari shalat Ashar, namun
sahabatnya itu tak kunjung datang ke masjid.
Rasa penasaran itu membuatnya selalu bertanya-tanya ada
apa gerangan dengan Abdullah?
"Apa yang terjadi dengan sahabatku Abdullah?"
"Apakah dia sedang sakit?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk dalan hati dan pikiran
Sufyan.
Berawal dari situlah akhirnya Sufyan mendatangi rumah
Abdullah. Dugaan Sufyan ternyata benar adanya. Pada saat
itu Abdullah sedang terbaring sakit di ranjangnya. Dalam
kondisi yang sangat lemah tersebut, Abdullah memanggil
sahabatnya untuk duduk lebih dekat dengannya sembari
mengucapkan sesuatu.
"Apabila aku mati nanti, hendaklah kamu sendiri yang
memandikan aku, menyalatiku, lalu kuburkan aku dan jangan
kau tinggalkan aku sendirian di kuburan pada malam harinya.
Talqinkanlah aku dengan kalimat tauhid ketika Malaikat
Munkar dan Nakir menanyaiku," ujar Abdullah.
Sufyan pun menyanggupinya dan tak lama kemudian Abdullah
meninggal dunia. Sufyan sangat sedih karena telah kehilangan
sahabat karibnya itu. Meski demikian, Sufyan tetap sabar dan
ikhlas sembari melaksanakan amanah yang disampaikan
almarhum kepadanya. Ia merawat jenazah almarhum dengan
memandikan, mengkafani, menyalati hingga ikut
menguburkannya.
Pada malam harinya, Sufyan juga menunggu seorang diri di
atas makam sahabatnya itu sambil membacakan kalimat
talqin. Beberapa saat kemudian, antara sadar dan tidak,
Sufyan mendengar suara dari atas.
"Wahai Sufyan, orang tersebut tidak butuh penjagaanmu, tidak
butuh talqinmu, tidaj juga butuh pelipur laramu karena aku
telah mentalqinkannya dan memberinya kesenangan, "kata
suara tanpa wujud itu.
"Dengan apa engkau menjaganya? "tanya Sufyan.
"Dengan puasa di bulan Ramadhan dan diikuti puasa 6 hari di
bulan syawal," jawab suara itu.
Tak lama setelah dialog itu,tiba-tiba Sufyan terjaga dan
tersadar. Ia kaget karena saat itu ia tidak melihat seorang
pun di sekelilingnya. Sufyan masih ragu, apakah suara itu
berasal dari malaikat atau setan yang berupaya
menghasutnya. Oleh karena itu, Sufyan kemudian pergi untuk
mengambil air wudhu, melaksanakan shalat, kemudian pergi
tidur.
Anehnya, dalam tidur itu ia bermimpi sama persis dengan
kejadian tadi. Bahkan mimpinya berulang hingga tiga kali. Hal
itu membuat Sufyan yakin sekali bahwa suara itu berasal dar
malaikat Allah, bukan dari setan. Ia juga mengerti bahwa
sahabatnya itu telah mendapatkan nikmat kubur.
Sufyan pun berdoa kepada Allah Ta'ala
Ya Allah, dengan anugerah dan kemuliaan-Mu, berilah kami
taufik agar dapat berpuasa seperti puasanya sahabatku ini,
amiiin.
Keluarga Islam
Rumah Tangga yang ideal menurut ajaran Islam
adalah rumah tangga yang diliputi
'sakinah' (ketentraman jiwa), 'mawaddah' (rasa
cinta) dan 'rahmah' (kasih sayang).
Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu
hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga)
telah menjadikan di antaramu (suami, istri)
rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". (Ar-
Ruum : 21).
Dalam rumah tangga yang Islami, suami-istri
harus saling memahami kekurangan dan
kelebihannya serta harus tahu pula hak dan
kewajibannya serta memahami tugas dan
fungsinya masing-masing yang harus
dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Dengan demikian upaya untuk mewujudkan
pernikahan dan rumah tangga yang mendapat
keridha'an Allah SWT dapat terealisir.
Tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak
bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan,
sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi
kehidupan manusia, maka tidak jarang
pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram
dan bahagia mendadak dilanda "kemelut"
perselisihan dan percekcokan.
Bila sudah diupayakan untuk damai
(sebagaimana disebutkan dalam surat An-
Nisaa : 34-35) namun tetap gagal, maka Islam
memberikan jalan terakhir, yaitu "perceraian".
Marilah kita berupaya untuk merealisasikan
pernikahan secara Islam dan membina rumah
tangga yang Islami. Disamping itu wajib bagi
kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara
dan adat istiadat yang bertentangan dengan
Islam.
Hanya Islam satu-satunya ajaran yang benar
dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala (Ali-
Imran : 19). "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah
kepada kami istri-istri dan keturunan yang
menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami
Imam bagi orang-orang yang bertaqwa". (Al-
Furqan ; 25:74 )
Tiga Nasehat

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” HR. Tirmidzi
Hijab menyelamatkan hidup saya / Hijab saved my life
Saya selalu lelah untuk masuk ke masyarakat dengan menjadi seperti mereka tapi coba tebak? Aku tidak bisa! Mereka diganggu saya bahkan lebih. Hidupku kacau karena saya berusaha untuk mengesankan orang-orang yang bahkan tidak bisa memahami kata sederhana dari Nabi Muhammad (SAW) : "Jadilah baik kepada yang lain." Aku menjadi begitu tertekan dan mencoba bunuh diri tiga kali.
Suatu hari, wanita ini indah di Masjid menatapku dan berkata: "Kau begitu cantik tapi kau tahu apa? Anda bisa lebih cantik. "Dia mengambil jilbab dari tasnya dan menyerahkannya kepada saya. Saya mulai mengenakan jilbab sejak hari itu. Pada awalnya, saya tidak sepenuhnya berkomitmen untuk jilbab. Aku digunakan untuk menghapus jilbab saya di pesta-pesta. Butuh waktu tiga bulan penuh untuk memahami makna jilbab.
Saya mulai berdoa dan mendidik diri sendiri lebih banyak tentang Islam. Sekarang, alhumduillah (puji bagi Allah), hidup saya telah berubah untuk lebih baik. Orang-orang yang digunakan untuk menangis, bicara, saya dihapus dari kehidupan mereka. Tapi aku tidak sedih sama sekali. Saya sangat senang karena saya tahu saya punya Allah, alhamdulillah.
Aku tidak pernah ingin kembali ke kehidupan lamaku. Ini sepotong kain mengubah hidup saya. Saya benar-benar percaya, ketika Anda melakukan sesuatu untuk Allah dan mengenal Islam yang benar, Anda tahu perdamaian.
Oleh : Noora Khan (USA)
Inspiring Story Behind World Hijab Day | By Nazma Khan *EMOTIONAL*
![]() |
| Nazma Khan |
Seruan untuk menghormati kewajiban Muslimah berjilbab yang digaungkan gadis AS ini mampu menjangkau hampir seluruh negara di dunia.
"Ada 116 negara yang berpartisipasi dalam Hari Jilbab Sedunia", ujar Khan, seperti dikutip OnIslam.net.
Ini merupakan tahun kedua gerakan Hari Hijab Sedunia digulirkan. Pada 2013, sebanyak ratusan ribu Muslim dari 100 negara mendukung gerakan itu. Tahun ini, gerakan tersebut kian meluas.
Saat ini, masih ada negara di dunia yang masih melarang Muslimah mengenakan jilbab. Di Indonesia sekalipun, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, masih banyak lembaga yang melarang Muslimah mengenakan jilbab.
Menurut Khan, gerakan Hari Jilbab Sedunia digulirkan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat dunia bahwa mengenakan hijab atau jilbab adalah hak dan pilihan hidup setiap Muslimah. Khan pun meluncurkan poster edukasi tentang jilbab yang diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.
Menurut Khan, berjilbab merupakan hak asasi seorang Muslimah. Jilbab tak hanya sekadar simbol keagamaan, tetapi dalam Islam adalah kewajiban yang harus dilakukan setiap Muslimah.
Saya mengenakan jilbab karena itu adalah perintah dari Allah SWT, ungkap Hamdi Abdirahman, seorang Muslimah dari Kanada.
Hari Jilbab Sedunia pun tak hanya mendapat perhatian dari Muslimah. Wanita non-Muslim pun banyak yang mendukung gerakan ini. Bahkan, tak sedikit wanita non-Muslim yang memutuskan untuk mengenakan jilbab untuk menutup aurat mereka.
Kathryn Van Gompel, misalnya. Wanita penganut Kristen asal Arizona, Amerika Serikat itu, merupakan satu dari ribuan wanita non-Muslim yang mencoba mengenakan jilbab pasca-Hari Jilbab Sedunia tahun lalu.
Setelah mengenakan jilbab selama beberapa bulan, Gompel berpikir untuk melanjutkannya. Saya belum pernah mendapat respons negatif sejauh ini. Saya seorang Kristen dan sudah enam bulan mengenakan jilbab, cetusnya. [ROL/bersamadakwah]
sumber :
http://www.worldhijabday.com/
https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=_73EhQ1Upbs
Pesan Umar Bin Khattab RA kepada Pasukannya tentang Rahasia Kemenangan
![]() |
| UMAR BIN KHATTAB |
“Amma Ba’du. Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukan untuk bertakwa kepada Allah swt. dalam setiap keadaan. Karena takwa kepada Allah swt. adalah senjata yang paling kuat dan strategi yang paling jitu untuk mengalahkan musuhmu.
Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukanmu untuk berhati-hati terhadap perbuatan maksiat, lebih dari hati-hati kalian terhadap musuhmu. Karena maksiat yang kalian perbuat lebih aku khawatirkan daripada kekuatan pasukan musuh.
Allah swt. memberikan kemenangan kepada pasukan Islam disebabkan musuh-musuhnya yang berbuat kemaksiatab. Kalau bukan karena itu, niscaya pasukan Islam tidak akan berdaya menghadapi pasukan musuh. Karena jumlah pasukan Islam tak seberapa dibanding jumlah pasukan musuh; persenjataan pasukan Islam pun tak ada apa-apanya dibandingkan persenjataan musuh. Sehingga seandainya pasukan Islam dan pasukan musuh sama-sama berbuat maksiat, maka pasukan musuh akan menang karena mereka lebih kuat dari segi jumlah dan senjata. Jika pasukan Islam tidak berbuat maksiat, maka pasukan Islam akan menang, karena keshalihan mereka, bukan karena kekuatan mereka.
Kemudian ketahuilah, selama perjalanan kalian, Allah swt. mengirim para malaikat yang akan mengawasi. Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka teruslah merasa malu kepada mereka. Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah swt., padahal kalian sedang berada dalam jalan-Nya.
Janganlah kalian berkata bahwa kalian pasti akan menang karena musuh-musuh pasti lebih buruk dari kalian, sehingga mereka tidak akan mungkin menguasai kalian. Karena sangat mungkin sebuah kaum dikuasai oleh kaum yang buruk. Seperti Bani Israel yang dikuasai oleh kaum Majusi. Bisa demikian karena karena Bani Israel telah melakukan hal-hal yang membuat Allah swt. murka.
Mohonlah kepada Allah swt. agar menolong kalian melawan jiwa kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian. Aku juga memohon hal itu untukku dan untuk kalian."
oleh : Moh Sofwan Abbas
Sumber: dakwatuna
Cara Mendidik Anak ala Rasulullah SAW
Kita dalam hal ini berada dalam lingkaran setan, anak didik tidak berkualitas ternyata karena gurunya yang kurang bermutu, akhirnya pendidikannya gagal. Memang salah satu syarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan adalah dipilihnya pendidik yang baik, yang sebelumnya perlu dididik pula. Sebenarnya kalau melihat ke sejarah Nabi, problema ini baru terselesaikan karena Allah Swt. turun tangan.
Anak didik dibentuk oleh empat faktor. Pertama, ayah yang berperan utama dalam membentuk kepribadian anak. Bahkan, dalam Al-Quran hampir semua ayat yang berbicara tentang pendidikan anak, yang berperan adalah ayah. Kedua, yang membentuk kepribadiannya juga adalah ibu; ketiga, apa yang dibacanya (ilmu); dan keempat, lingkungan. Kalau ini baik, anak bisa baik, juga sebaliknya. Begitu pula baik-buruk kadar pendidikan kita.
Empat faktor ini belum tentu semuanya terwujud. Ketika Allah Swt. menetapkan bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya, maka yang membentuk kepribadiannya adalah Allah Swt. Sebab, bila diserahkan kepada masyarakat atau keluarga, maka ia tidak akan sempurna, bisa jadi keliru. Dalam hal ini, Tuhan yang melakukan, sedangkan masyarakat atau keluarga diberi peranan yang sangat sedikit. Itu sebabnya bila telah selesai peranan ayah, maka dia diambil-Nya meninggal dunia. Ini karena Tuhan tidak mau beliau dididik bapaknya. Begitu lahir dibawa ke desa dan ketika usia remaja baru ketemu ibunya. Namun, ibunya pun kemudian diambil-Nya. Selain itu, beliau lahir di lingkungan dengan gaya hidup yang terbelakang, bahkan hampir tidak tersentuh oleh peradaban. Padahal, waktu itu Mesir, Persia, dan India semunya sudah maju. Dalam hal ini, Allah Swt. ingin mendidik langsung beliau untuk menjadi pendidik, yakni figur yang diteladani bagaimana seharusnya mendidik. Itu sebabnya beliau bersabda, Addabanî Rabbî fa Ahsana Ta’dîbi (”Yang mendidik saya itu adalah Tuhan”). Juga, Bu’itstu Mu’alliman (”Saya diutus-Nya menjadi pengajar, pendidik”).
Kita ambil beberapa inti dari kisah hidup Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Bila ingin anak yang membawa namamu itu tumbuh berkembang dengan baik, maka pilih-pilihlah tempat kamu meletakkan spermamu, karena gen itu menurun”. Jadi, sebelum anak lahir kita harus memilih hal yang baik, karena gen ini mempengaruhi keturunan. Pakar pendidikan mengakui bahwa ada faktor genetik dan pendidikan. Walaupun mereka berbeda pendapat yang mana lebih dominan, namun yang jelas keduanya punya pengaruh. Penulis pribadi cenderung berpendapat yang lebih dominan itu sebenarnya pada pendidikan, bukan sperma (gen). Sebagai analogi, bila kita lagi sumpek, masakan kita bisa tidak enak. Di sini ada pengaruh dari emosi dan sikap pada saat membuat suatu masakan. Jadi, bila ingin anak yang baik, maka harus ditanamkan perasaan yang enak, harmonis, dan penuh keagamaan sewaktu memproduksinya. Ini berpengaruh kepada jabang bayi. Ketika membuatnya dalam situasi ketakutan, maka anaknya pun akan menjadi penakut. Anak yang lahir di luar nikah itu berbeda dengan anak yang lahir dari hubungan yang sah. Karena semua orang sadar dalam hati bahwa perzinahan itu buruk, maka hal ini nantinya dapat berpengaruh terhadap anak. Karena itu pula, Nabi Saw. memerintahkan untuk memilih tempat-tempat yang baik saat menanamkan sperma kita dan dianjurkan sebelumnya untuk membaca doa dan tidak dihantui rasa takut atau cemas.
Di dalam Al-Quran diterangkan, Nisâukum hartsun lakum (Isteri kamu adalah ladang buatmu). Di sini Al-Quran mengumpamakan suami sebagai “petani” dan isteri sebagai “ladang”. Kalau petani menanam tomat, apakah apel yang tumbuh? Siapa yang salah, bila si suami menghendaki anak laki-laki namun yang lahir perempuan, petani atau ladangnya? Tentu petani. Setelah ditanam, semestinya benih itu dipelihara. Bila ada hama, maka perlu dipupuk, disirami, dan dipelihara dengan baik. Setelah ada hasilnya, maka perlu dicuci dulu bila ingin dimakan. Dan bila ingin dijual, juga dibersihkan dulu dan dikemas sedemikian rupa agar dapat bermanfaat. Ini sebenarnya pelajaran dalam Al-Quran. Agar buah yang lahir dari kehidupan suami-isteri ini bisa membawa manfaat sebanyak mungkin, maka harus memperhatikan sang isteri (ibu). Dari sini, sekian banyak anjuran untuk memberikan makanan yang bergizi bagi seorang ibu. Di masa Nabi Saw, buah yang paling banyak adalah kurma. Kurma itu memiliki vitamin dan karbohidrat yang tinggi. Nabi Saw. berkata, “Isteri-isteri kamu yang sedang hamil, maka berilah ia kurma agar supaya anaknya lahir sehat dan gagah”.
Hal di atas menunjukkan bahwa jauh sebelum anak dilahirkan, ternyata Islam telah memiliki landasan dan tempat berpijak. Lalu, apa yang perlu diperankan orang tua sekarang? Pertama, satu hal yang perlu digarisbawahi, begitu seorang anak lahir, Islam mengajarkan untuk diadzankan. Walaupun anak itu belum mendengar dan melihat, tapi ini memiliki makna psiko-keagamaan pada pertumbuhan jiwanya. Anak yang baru beberapa hari lahir, kalau ia ketawa, anda jangan menduga bahwa ia ketawa karena atau dengan ibunya, tapi karena ia merasakan kehadiran seseorang. Para pakar mengatakan demikian, karena ada orang yang lahir buta tetap tersenyum saat ibu mendekatinya. Jadi, seorang bayi memiliki rasa pada saat mendengar adzan, juga memiliki jiwa yang bisa berhubungan dengan sekelilingnya. Karena itu, adzan menjadi kalimat pertama yang diucapkan kepadanya. Dan, karena saat membacakan adzan seorang muadzin berhubungan dengan Tuhan, maka inilah yang memberikan dampak bagi perkembangan anak ke depan.
Kedua, sampai umur tujuh hari, kelahiran anak perlu disyukuri (’aqiqah). Kalau begitu, jangan sampai terbetik dalam pikiran ibu/bapak merasa tidak mau atau tidak membutuhkannya, karena saat itu sang anak sudah punya perasaan dan harus disambut dengan penuh syukur (’aqiqah). Misal, ada orang yang mengharapkan anak laki-laki, namun kemudian lahir anak perempuan, akhirnya ia kecewa serta tidak menerima dan menyukurinya. Semestinya perlu disyukuri, baik laki-laki maupun perempuan.
Ketiga, setelah ‘aqiqah, sang anak baru diberi nama yang terbaik karena dalam hadis disebutkan, “Di hari kemudian nanti orang-orang itu akan dipanggil dengan namanya”. Dalam hadis lain dijelaskan, “Nama itu adalah doa dan nama itu bisa membawa pada sifat anak kemudian”. Jadi, pilihlah nama yang baik untuknya.
Nama itu adalah sebuah doa yang menyandangnya. Ada ilustrasi, sebelum perang Badar (2 H.). berkecamuk, ada duel perorangan antara kaum muslim dan musyrik. Ali, Hamzah, dan ‘Ubaidah dari pihak kaum muslim, sedangkan dari pihak kaum musyrik yaitu ‘Utbah, Al-Walid dan Syaibah. Ali (yang tinggi) melawan Utbah (orang yang kecil). Hamzah (singa) berhadapan dengan Syaibah (orang tua). Al-Walid (anak kecil) berhadapan dengan ‘Ubaidah (hamba yang masih kecil). Bisa dibayangkan, bagaimana kalau orang yang tinggi besar berhadapan dengan anak kecil atau orang yang dijuluki “singa” dengan orang tua, siapa yang menang? Yang terjadi, Ali dan Hamzah berhasil membunuh lawannya, sedangkan Ubaidah dan al-Walid tidak ada yang terbunuh hanya keduanya terluka.
Nabi Saw. dipilihkan oleh Allah semua nama yang baik dan sesuai, karena ia adalah doa bagi yang menyandangnya. Misal, Nabi memiliki ibu bernama Aminah (yang memberi rasa aman) dan ayahnya Abdullah (hamba Allah). Yang membantu melahirkan Nabi namanya As-Syaffa (yang memberikan kesehatan dan kesempurnaan). Yang menyusuinya adalah Halimah (perempuan yang lapang dada), jadi Nabi dibesarkan oleh kelapangan dada. Anjuran untuk memilih nama yang mengandung doa juga dimaksudkan agar jangan sampai menimbulkan rasa rendah diri pada sang anak.
Keempat, mendidik anak bagi Nabi Saw. adalah menumbuhkembangkan kepribadian sang anak dengan memberikan kehormatan kepadanya, sehingga beliau sangat menghormati anak-cucunya. Bila memang sejak kecil ia sudah memiliki perasaan, maka jangan sampai ada perlakuan yang menjadikannya merasa terhina. Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya untuk berbakti kepada orang tuanya. Nabi Saw. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”.
Ada sebuah riwayat, seorang anak lelaki digendong oleh Nabi dan anak itu pipis, lantas ibunya langsung merebut anaknya itu dengan kasar. Nabi kemudian bersabda, “Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi berkata, “Jangan, biarkan ia kencing”. Dari hal ini, muncul ketentuan, bila anak laki-laki kencing cukup dibasuh, sedangkan bila anak perempuan dicuci dengan sabun. Riwayat tadi memberi pelajaran bahwa sikap kasar terhadap seorang anak dapat mempengaruhi jiwanya sampai kelak ia dewasa.
Namun sisi lain, ada satu hal di mana Nabi sangat hati-hati dalam persoalan anak. Ketika Nabi lagi di masjid, ada orang yang kirim kurma, kemudian cucunya datang dan mengambil sebuah kurma lalu dimakannya. Nabi bertanya kepada ibunya, “Ini anak tadi mengambil kurma dari mana?” Sampai akhirnya, dipanggilnya Saidina Hasan dan dicongkel kurma dari mulutnya. Ini maknanya apa? Nabi tidak mau anak cucunya itu memakan sesuatu yang haram, walaupun ia masih kecil dan tidak ada dosa baginya, karena itu akan memberikan pengaruh kepadanya kelak ia besar.
Ada cerita dari pengalaman seorang ibu yang pendidikannya hanya sampai SD dan memiliki 13 anak, tetapi semuanya berhasil. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepada si ibu itu, “Doa apa yang dipakai ibu sehingga semuanya berhasil?” Jawabnya, “Saya dan suami saya tidak banyak berdoa. Tapi, bila anak saya bersalah atau saya tidak senang perbuatannya, saya selalu berkata, “Mudah-mudahan Tuhan memberimu petunjuk”. Jadi, anak ini tidak dimaki, dikutuk, atau dimarahi. Dan, kami kedua orang tuanya tidak pernah memberi makan mereka dengan makanan yang haram”.
Oleh : Prof.DR. M Quraish Shihab
Di manakah Allah SWT Berada? Ini Jawabannya
Saya bingung Ustaz, karena saya dibilang sesat oleh teman tadi. Sebenarnya, Allah ada di mana?
Di mana Allah berada? Pastinya hanya Allah sendiri Yang Maha Mengetahui di mana diri-Nya berada. Memang benar Allah tidak terikat dan terhukumi oleh ruang dan waktu. Di mana zat-Nya bersemayam tak seorang hamba pun yang dapat memastikannya.
Tapi, jika kita mau jujur secara ilmiah dan mau mengakui kekurangan, tidak sulit menemukan jawaban di manakah Allah berada. Imam asy-Syafi’i berkata: Berbicara tentang sunah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadis yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah ikrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas ‘arsy di langit dan dekat dengan makhluk-Nya.” (Kitab I’tiqad al-Imamil Arba’ah, bab 4).
Demikian juga, diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi), dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali). Tentang hal ini, silakan merujuk pada kitab I’tiqad Al-Imamil Arba’ah karya Muhammad bin Abdirrahman al-Khumais.
Allah berada di ‘arsy dan ‘arsy-Nya di langit, sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut: Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘arsy.’’ (QS Thaha: 5). Ayat tersebut begitu tegas menjelaskan bahwa Allah berada di ‘arsy.
Dalam ayat lain, dijelaskan pula bahwa zat Allah berada di langit. Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang.’’ (QS al-Mulk: 16)
Juga dijelaskan dalam ayat ini: Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.’’ (QS al-Ma’arij: 4). Ayat tersebut menggambarkan ketinggian zat Rabb.
Dalam hadis dijelaskan pula, Rasulullah bersabda: Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya di atas ‘arsy, Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’.” (HR Bukhari-Muslim)
Sumber : Ustaz Bachtiar Nasir
Selamat Hari Ibu : Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu ?
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
"Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu."
(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Dan saat melahirkanmu, kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu?
Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”
Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).
Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa setiap anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali ia menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan. (HR Muslim). Dalam hadis lain, “Berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah.” (HR Thabrani).
Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada orang tua setelah keduanya wafat? Sabda Nabi SAW, “Masih, yaitu mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menunaikan janjinya, memuliakan temannya, dan menyambung hubungan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Sejarah mencatat, banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Kita tidak akan dapat menjadi hebat seperti sekarang tanpa sentuhan darinya. Maka, tak berlebihan jika ada ungkapan, Al-Jannatu tahta aqdami al-ummahat”, surga berada di bawah telapak kaki ibu.
Karena itu, ketika seorang laki-laki berhijrah dari Yaman kepada Nabi SAW dan ingin berjihad. Kemudian, Nabi SAW bertanya, “Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu?”
“Masih ya Rasulullah” jawab laki-laki itu.
Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan mintalah izin darinya. Jika keduanya memberi izin maka engkau boleh berjihad dan jika keduanya tidak mengizinkan maka berbuat baiklah kepadanya, karena hal itu merupakan sesuatu yang paling baik yang engkau bawa untuk bertemu dengan Allah setelah tauhid.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Lalu, datang laki-laki lain kepada Nabi SAW meminta baiat untuk berangkat hijrah. Ia berkata, “Aku datang kepadamu, sehingga membuat kedua orang tuaku menangis.”
Kemudian Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada keduanya dan buatlah keduanya tertawa, sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan al-Hakim).
Ibu memiliki peran yang tak dapat digantikan oleh siapa pun. Dialah yang mencetak generasi unggul. Maka, tidaklah berlebihan jika seorang penyair mengungkapkan, Al-Ummu madrasatun, in a’dadtahaa a’dadta sya’ban thayyiba al-a’raaqi. Ibu itu ibarat sebuah sekolah, apabila kamu persiapkan dengan baik, berarti kamu telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.
Dalam hadis lain, Rasul SAW menempatkan ibu sebagai orang yang paling utama untuk dihormati. Beliau memerintahkan umatnya untuk senantiasa memuliakan ibunya, kemudian menyayangi ibunya. Setelah itu, barulah bapak. Wallahu a’lam.
Dikutip dari Hikmah Republika edisi 29 Maret 2012 dengan judul: Membalas Kebaikan Ibu













