Tampilkan postingan dengan label ILMU ISLAM. Tampilkan semua postingan

Sikap Dan Perilaku Istri kepada Suami Yang Dilarang Islam

Menjadi istri sholehah dan tunduk pada suami memang dianjurkan oleh Islam. Saya akan berikan beberapa contoh sikap dan perilaku istri kepada suami yang dilarang Islam yang akan merusak semua amal kebaikannya yang pernah diperbuat dan tidak boleh anda tiru khususnya kaum hawa yang taat dan beriman kepada Allah SWT.

Larangan Islam bagi istri kepada suami :

1. Tidak mentaati perintah suami dalam kebaikan

Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki." (Riwayat Ahmad dan Thabrani)

2. Menolak atau menunda permintaan suami dalam berhubungan intim

Sabda Rasulullah SAW,

Apabila seorang suami mengajak istri ke tempat tidur (untuk berjima’), dan istri menolak (sehingga membuat suaminya murka), maka si istri akan dilaknat oleh malaikat hingga (waktu) subuh. (Diriwayatkan Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, ad-Darimi dan al-Baihaqi, dari Abu Hurairah ra)

Dalam haditsnya yang lain Rasulullah bersabda,
Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (istri) tetap tidak boleh menolak. (Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dari Abdullah bin Abi Aufa ra)

3. Tidak menjaga harta suami

Sayidina Ali k.w.j. berkata: "Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya".

4. Keluar rumah tanpa izin suami
Dalilnya adalah perkataan Sayidina Ali kwj di atas

5. Selalu meremehkan kebaikan yang dibuat suami kepada istri

Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya."

6. Minta cerai tanpa sebab

Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
"Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga keatasnya."

7. Tidak bersyukur atas segala pemberian suami

Nabi SAW bersabda maksudnya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."

8. Berkata kotor kepada suami, pamer aurat pada orang lain dan tidak berbakti pada suami

Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
Empat perempuan yang berada di Neraka yaitu :
  1. Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinya (memarahinya).
  2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
  3. Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
  4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.
Jumat, 22 Agustus 2014
Posted by suqa bintang

Ujian dan Cobaan: Penggugur Dosa, Penambah Kebaikan

Dalam hidup, kita tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan.  Terkadang ujian itu dapat kita lalui tanpa kesulitan berarti. Tapi kadang, cobaan yang kita terima sangat berat sampai rasanya kita tak sanggup menanggungnya.  Pada saat seperti itu, kita mungkin merasa sebagai orang yang paling malang sedunia.  Seakan-akan Allah meninggalkan kita, membiarkan kita terbenam dalam kesulitan.
Namun, Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).

Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).

Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).

Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).

Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita.  Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita. Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt.  Semakin berat cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika berhasil melaluinya.

Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).

Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).

Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).

Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu melewatinya.  Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Selasa, 19 Agustus 2014
Posted by suqa bintang

Asmaul husna dan Artinya

1. (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah

2. (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

3. (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Merajai

4. (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci

5. (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat

6. (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan

7. (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Memelihara / Mengawasi

8. (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa / Ynag Dapat Mengalahkan

9. (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Perkasa / Menundukkan Segalanya

10. (Al Mutakabbir) Artinya Yang Mempunyai kebesaran.

11. (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta

12. (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan / Melepaskan

13. (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk

14. (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun

15. (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Memaksa

16. (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah / Pengkarunia

17. (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki

18. (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka

19. (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui

20. (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang / Menyempitkan Rezeki

21. (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat / Melapangkan Rizki

22. (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Merendahkan Derajat

23. (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi / Meninggikan Derajat

24. (Al Mu’izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan

25. (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina

26. (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar

27. (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat

28. (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili / Menetapkan Hukum

29. (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil

30. (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut/Halus

31. (Al Khabir) Artinya Yang Maha Waspada

32. (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar

33. (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung

34. (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun

35. (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur / Berterima Kasih

36. (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi

37. (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar

38. (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara

39. (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga / Memberikan Makan

40. (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung

41. (Al Jalil) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran

42. (Al Karim) Artinya Yang Maha Mulia

43. (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada / Mengawasi

44. (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul

45. (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas

46. (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana

47. (Al Wadud) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

48. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

49. (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula

50. (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan

51. (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar

52. (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentabir / Mengurusi

53. (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat

54. (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh / Kokoh

55. (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi

56. (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji

57. (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung

58. (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal / Memulai

59. (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembalikan

60. (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan

61. (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan

62. (Al Hayyu) Artinya Yang Maha Hidup

63. (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri

64. (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu

65. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

66. (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa

67. (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal

68. (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan

69. (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya

70. (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa

71. (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Mendahului

72. (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Mengakhiri / Penangguh

73. (Al Awwal) Artinya Yang Pertama

74. (Al Akhir) Artinya Yang Akhir

75. (Az Zahir) Artinya Yang Zahir

76. (Al Batin) Artinya Yang Batin / Tak Kelihatan Dzatnya

77. (Al Wali) Artinya Yang Memerintah / Menguasai

78. (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia

79. (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan / Kebaikan

80. (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat

81. (Al Muntaqim) Artinya Yang Maha Memberi Hukuman / Siksaan

82. (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun

83. (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang

84. (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal / Memiliki Kerajaan

85. (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan

86. (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Adil

87. (Al Jami) Artinya Yang Maha Mengumpulkan

88. (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya

89. (Al Mughni) Artinya Yang Maha Memberi Kekayaan

90. (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah / Mempertahankan

91. (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat / Bahaya

92. (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat

93. (Al Nur) Artinya Memberi Cahaya

94. (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk

95. (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya

96. (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal

97. (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi

98. (Ar Rasyid) Artinya Yang Maha Pandai

99. (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar

Jumat, 15 Agustus 2014
Posted by suqa bintang

Panduan Sholat Dhuha – Niat dan Bacaan Doa Sholat Dhuha

Sholat dhuha atau sholat sunah dhuha merupakan sholat sunah yang dikerjakan pada waktu dhuha. Waktu dhuha merupakan waktu dimana matahari telah terbit atau naik kurang lebih 7 hasta hingga terasa panas menjelang shalat dzhur. atau sekitar jam 7 sampai jam 11, tentunya setiap daerah berbeda, tergantung posisi matahari pada daerah masing-masing. Sholat dhuha sebaiknya dikerjakan pada seperempat kedua dalam sehari, atau sekitar pukul sembilan pagi. Sholat dhuha dilakukan secara sendiri atau tidak berjamaah (Munfarid)

Niat Sholat dhuha

Untuk niat sholat dhuha hampir sama dengan sholat sunah lainnya, yaitu sebagai berikut
Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa
arti dalam bahasa Indonesia :
Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah.

Tata cara sholat dhuha

Tata cara sholat dhuha hampir sama dengan sholat sunah pada umumnya,
  1. Setelah membaca niat seperti yang telah tertulis diatas kemudian membaca takbir,
  2. Membaca doa Iftitah
  3. Membaca surat al Fatihah
  4. Membaca satu surat didalam Alquran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam  dan rakaat kedua surat Al Lail  
  5. Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
  6. I’tidal dan membaca bacaannya
  7. Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
  8. Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya
  9. Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
  10. Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.

Jumlah rakaat sholat dhuha

Sholat dhuha dilakukan dalam satuan dua rakaat satu kali salam. Sementara itu untuk berapa jumlah maksimal sholat dhuha ada pendapat yang berbeda dari para ulama, ada yang mengatakan maksimal 8 rakaat, ada yang maksimal 12 rakaat, dan ada juga yang berbedapat tidak ada batasan.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai perbedaan pendapat jumlah rakaat sholat dhuha silahkan simak penjelasan yang kami kutip dari konsultasi syariah di bawah ini

Pertama, jumlah rakaat maksimal adalah delapan rakaat. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dalil yang digunakan madzhab ini adalah hadis Umi Hani’ radhiallaahu ‘anha, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahnya ketika fathu Mekah dan Beliau shalat delapan rakaat. (HR. Bukhari, no.1176 dan Muslim, no.719).

Kedua, rakaat maksimal adalah 12 rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan pendapat lemah dalam Madzhab Syafi’i. Pendapat ini berdalil dengan hadis Anas radhiallahu’anhu
من صلى الضحى ثنتي عشرة ركعة بنى الله له قصرا من ذهب في الجنة
“Barangsiapa yang shalat dhuha 12 rakaat, Allah buatkan baginya satu istana di surga.” Namun hadis ini termasuk hadis dhaif. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Mundziri dalam Targhib wat Tarhib. Tirmidzi mengatakan, “Hadis ini gharib (asing), tidak kami ketahui kecuali dari jalur ini.” Hadis ini didhaifkan sejumlah ahli hadis, diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani dalam At-Talkhis Al-Khabir (2: 20), dan Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah (1: 293).

Ketiga, tidak ada batasan maksimal untuk shalat dhuha. Pendapat ini yang dikuatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Hawi. Dalam kumpulan fatwanya tersebut, Suyuthi mengatakan, “Tidak terdapat hadis yang membatasi shalat dhuha dengan rakaat tertentu, sedangkan pendapat sebagian ulama bahwasanya jumlah maksimal 12 rakaat adalah pendapat yang tidak memiliki sandaran sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Hafidz Abul Fadl Ibn Hajar dan yang lainnya.”. Beliau juga membawakan perkataan Al-Hafidz Al-’Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi, “Saya tidak mengetahui seorangpun sahabat maupun tabi’in yang membatasi shalat dhuha dengan 12 rakaat. Demikian pula, saya tidak mengetahui seorangpun ulama madzhab kami (syafi’iyah) – yang membatasi jumlah rakaat dhuha – yang ada hanyalah pendapat yang disebutkan oleh Ar-Ruyani dan diikuti oleh Ar-Rafi’i dan ulama yang menukil perkataannya.”

Setelah menyebutkan pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, As-Suyuthy menyebutkan pendapat sebagian ulama malikiyah, yaitu Imam Al-Baaji Al-Maliky dalam Syarh Al-Muwattha’ Imam Malik. Beliau mengatakan, “Shalat dhuha bukanlah termasuk shalat yang rakaatnya dibatasi dengan bilangan tertentu yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, namun shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang boleh dikerjakan semampunya.” (Al-Hawi lil fataawa, 1:66).

Kesimpulan dan Tarjih

Jika dilihat dari dalil tentang shalat dhuha yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam jumlah rakaat maksimal yang pernah beliau lakukan adalah 12 rakaat. Hal ini ditegaskan oleh Al-’Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi dan Al-’Aini dalam Umdatul Qori Syarh Shahih Bukhari. Al-Hafidz Al ‘Aini mengatakan, “Tidak adanya dalil –yang menyebutkan jumlah rakaat shalat dhuha– lebih dari 12 rakaat, tidaklah menunjukkan terlarangnya untuk menambahinya.” (Umdatul Qori, 11:423)
Setelah membawakan perselisihan tentang batasan maksimal shalat dhuha, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Pendapat yang benar adalah tidak ada batasan maksimal untuk jumlah rakaat shalat dhuha karena:
  1. Hadis Mu’adzah yang bertanya kepada Aisyah radhiallahu’anha, “Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat dhuha?” Jawab Aisyah, “Ya, empat rakaat dan beliau tambahi seseuai kehendak Allah.” (HR. Muslim, no. 719). Misalnya ada orang shalat di waktu dhuha 40 rakaat maka semua ini bisa dikatakan termasuk shalat dhuha.
  2. Adapun pembatasan delapan rakaat sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang fathu Mekah dari Umi Hani’, maka dapat dibantah dengan dua alasan: pertama, sebagian besar ulama menganggap shalatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika fathu Mekah bukan shalat dhuha namun shalat sunah karena telah menaklukkan negeri kafir. Dan disunnahkan bagi pemimpin perang, setelah berhasil menaklukkan negri kafir untuk shalat 8 rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah. Kedua, jumlah rakaat yang disebutkan dalam hadis tidaklah menunjukkan tidak disyariatkannya melakukan tambahan, karena kejadian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat delapan rakaat adalah peristiwa kasuistik –kejadian yang sifatnya kebetulan– (As-Syarhul Mumthi’ ‘alaa Zadil Mustaqni’ 2:54).

Doa sholat dhuha

Do’a Shalat Dhuha bahasa Arab :
Berikut ini merupakan bacaan doa sholat dhuha dalam bahasa arab
اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Do’a Shalat Dhuha bahasa indonesia

Sedangkan bagi yang belum bisa membaca tulisan Arab, bisa membaca tekst latin di bawah ini
Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibadakash shalihin.

Artinya doa sholat dhuha

Di bawah ini merupakan arti dari bacaan sholat dhuha
“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

Semoga artikel mengenai panduan sholat dhuha yang dilengkapi dengan bacaan niat dan doa sholat dhuha di atas bisa bermanfaat bagi. Rajinlah sholat dhuha setiap pagi. Semoga selalu berlimpah pahala dari Allah SWT, mendapatkan rezki halal dan baik bagi dunia dan akhirat. Aamiin.
Posted by suqa bintang

Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam Terakhir


Dari Jabir ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Sholat tahajjud merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan Allah subhanahu wata’ala yang paling efektif. Karena sholat tahajjud dilakukan manakala kebanyakan manusia sedang tertidur lelap. Masa yang penuh dengan kesunyian dan ketenangan akan membantu kita untuk lebih khusyuk bermunajat kepada Allah. Seorang muslim yang senantiasa mendawamkan sholat tahajjud, insya Allah akan selalu dicintai oleh-Nya. Barang siapa membiasakan sholat tahajjud maka Allah subhanahu wata’ala akan menjaminnya dengan kehidupan di surga kelak.

Dari Abdullah bin Salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan sholat malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Imam Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda yang artinya, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)

Allah subhanahu wata’ala akan senantiasa memberikan kemuliaan kepada hamba-Nya yang khusyuk dan istiqomah dalam mengamalkan sholat sunnah tahajjud. Dari Sahal bin Sa’ad ra., ia berkata, “Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sebebas-bebasnya, akhirnya pun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain.’”

Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seluruh manusia dikumpulkan di tanah lapang pada hari kiamat. Tiba-tiba ada panggilan dikumandangkan: “Di mana orang yang meninggalkan tempat tidurnya?, maka berdirilah mereka yang jumlahnya sangat sedikit, lalu masuk surga tanpa hisab. Baru kemudiaan seluruh manusia diperintah untuk diperiksa.”

# Disarikan dari berbagai sumber, oleh Azrul Azwar.
Senin, 11 Agustus 2014
Posted by suqa bintang

Ketika Keutuhan Rumah Tangga Harus Diperjuangkan



Cinta suami istri itu ibarat pendakian menuju puncak,keduanya akan memiliki kekuatan jika sama-sama berkomitmen, saling berpegangan jemari, merengkuh bahu, terkadang mungkin membopong. Ketika keletihan tiba ditengah pendakian, idealnya keduanya mengembangkan pengertian dan kesabaran.  Pasangan itu berpelukan dan saling menguatkan, sambil menatap puncaknya yang indah. Bahwa mereka akan tiba disana yang bernama puncak bahagia.

Untuk perjuangan menuju puncak bahagia ini saya akan membuat tokoh ilutrasi bernama Rina dan Teddy dahulu menikah atas nama cinta. Melewati perjuangan yang gigih kehadapan orang tua masing-masing, keduanya meyakinkan, bahwa mereka layak menjadi pasangan suami istri.

Pasangan di mabuk asmara ini segera menikah. Owh..ternyata beberapa lama setelah akad nikah berumah tangga itu tak seindah warna aslinya. Suaminya yang dahulu berkata manis, sekarang pandai membentak. Jika marah, benda-benda di rumahnya melayang, dan sifat-sifat buruk lainnya yang tak terlihat waktu pacaran.  Tentu saja ini menjadi kejutan mental tersendiri untuk Rina. Rina mencoba terus bertahan, mempertahankan rumah tangganya, sekalipun sempat seluruh cinta di hatinya ia pertanyakan ulang, bahkan goyah. Namun kemudian  ia memahami bahwa pernikahan adalah serangkaian komitmen, peran dan tanggung jawab tidak melulu atas nama cinta.

Dengan kesabaran penuh, ia tetap bertahan. Ia berharap, seiring waktu dan kelahiran putra-putranya Teddy akan semakin dewasa. Rina tidak pernah berniat meninggalkan Teddy, kendati ia adalah perempuan yang mandiri. Ada suami atau pun tiada, tidak sulit baginya secara financial. Namun, Rina menyadari, kehidupan ini serangkaian proses menuju pendewasaan. Dan masalah adalah guru terbaik dalam kehidupan yang fana ini. Kira-kira mungkin dalam pemikiran Rina senada dengan ucapan Ajahn Chah, “ Apa pun yang mengganggumu, jangan coba memusnahkannya, tapi belajarlah darinya.”
Kemudian ia pandang wajahnya sendiri pada cermin, ia katakan pada dirinya, “ Wahai diriku..engkaulah seharusnya pemilik  kecantikan jiwa yang sempurna, kalungkanlah ke leherku kesabaran, riaslah wajahku dengan ketenangan, hiasilah hatiku dengan ketulusan cinta, dan biarkan bibirku selalu tersenyum walaupun hatiku terluka…” Lalu ia tersenyum untuk dirinya sendiri, yang memantul indah dari cermin di kamarnya.
Setiap hari ia mencoba belajar untuk meluluhkan suaminya. Ia teringat sebuah ayat dalam Al Qur’an, “ Tolaklah kejahatan dengan kebaikan.”. Maka, perlakuan buruk suaminya, ia balas dengan kebaikan-kebaikannya. Ia percaya bahwa seluruh kebaikan maupun kejahatan akan berpulang pada dirinya. “ Allah Maha Teliti terhadap apa pun yang kamu kerjakan.” Demikian yang Rina baca dari surah An-Nisaa.

“ Kau tahu, kekuatan dan ketinggian manusia berasal dari kemampuan melayani dan memahami.” kata sebuah percakapan yang Rina dengar dari film di televisi. Lalu ia layani suaminya dengan santun, ia mencoba memahami seluruh keterbatasan Teddy. Ia kembangkan kepribadiannya, menjadi pribadi yang melimpah. Cinta Rina tidak untuk mengambil melainkan untuk memberi. Maka setelah itu deritanya mulai terasa lepas, hatinya  menjadi semakin ringan, dan begitu mudah memaafkan. 

Cinta Rina semakin kuat tatkala membaca sebuah bait dalam buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Ajahn Brahm,“ Kapan pun anda melakukan sesuatu, janganlah mengharapkan imbalan apa pun. Jadikanlah memberi sebagai kesenangan. Bersuka citalah dalam memberi dan tak harap kembali. Itulah cara indah untuk melepas.” Aku tahu, untuk mempertahankan kebersamaan dalam perbedaan itu, saya harus mau mengorbankan apa pun ..” bisiknya dalam hati. 

Kini Rina kian mengerti, bahwa jodoh adalah satu paket dalam sebuah pernikahan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia tak mungkin memilih yang baik-baiknya saja dari Teddy. Kepada komitmen dan ketulusan cinta Rina percaya, Ia akan membuktikan kasih dan ketulusan dalam tindakan, seperti kata Tagore.. “ Jika ia semata-mata kepedihan, ia akan mengembang jadi senyuman ringan, dan kau dapat lihat dalam sekejap. Jika ia semata-mata hanya kepedihan, ia akan mencerna menjadi air mata bening, mengaca, membiaskan rahasianya yang terdalam tanpa kata “

Begitulah, setiap pasangan. Boleh jadi saya maupun anda adalah pendaki-pendaki itu. Mungkin pasangan anda tertatih-tatih bahkan perlu anda bopong menuju puncak bahagia. Maka bersyukurlah yang masih memiliki visi kehidupan, andai pun pasangan tak sesuai harapan dan kita bersabar atasnya, kemenangan dan keindahan hidup tetap milik kita, karena kita telah berhasil mendaki puncak ruhani dan bermesraan denganNya. Bukankah pernikahan selalu melibatkan atas namaNya.?
_____
Bandung, 3 Juni 2011
Sumber gambar : www.visualphotos.com
Minggu, 10 Agustus 2014
Posted by suqa bintang

DO'A KEUTUHAN RUMAH TANGGA


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillaahirrahmanirrahiim

Betapa banyak rumah tangga diselamatkan oleh Allah dari kehancuran, karena doa seorang suami atau istri untuk pasangannya. Doa, bisa mengubah sesuatu yang sepertinya tak mungkin, menjadi mungkin. Tentu saja, dengan izin Allah ta’aala.

Sebagai contoh kongkrit, marilah kita simak penuturan seorang suami yang dahulunya selalu memperlakukan istrinya dengan kasar dan semena-mena. Ia berkata, “Bila aku tidak menemukan pakaianku terletak di tempatnya, langsung saja aku dengan kemarahan dan kalap memukulinya dan menempeleng wajahnya. Begitu juga bila kurang garam dalam makananku. Betapa malangnya dia. Aku bertambah marah dan naik pitam bila dia menasihatiku. Jika dia menyuruhku shalat, aku pun marah dan justru menghidupkan musik. Kadang aku juga memaksanya menghadiri tempat-tempat atau berbagai pesta yang tidak layak dihadiri oleh seorang wanita muslimah.”

Istrinya pun dihadapkan pada dua pilihan. Meminta cerai, atau bersabar serta mengadukan segalanya hanya kepada Allah ta’ala, serta meminta solusi kepada-Nya? Ia yang masih memiliki rasa cinta kepada suaminya, memilih alternatif kedua. Setiap malam, pada waktu sahur ia bermunajat kepada Allah ta’ala.

Sang suami melanjutkan kisahnya. “Terkadang, di malam hari aku bangun dari tidurku…tidak melihat istriku berbaring di atas ranjang. Maka aku pun bangkit mencarinya. Ternyata ia sedang berdiri menghadap Allah ta’ala dan merintih dalam doanya. Kejadian seperti ini diulanginya berkali-kali.
Hingga pada suatu malam, ketika ia sedang menangis lirih, berdoa kepada Allah dalam shalat malamnya, aku terbangun. Tangisan dan doanya itu telah membangunkanku. Lalu aku merasakan sakit di dadaku. Rasa sakit itu menjadikanku mengingat kembali tentang kehidupanku selama ini, perlakuanku terhadapnya…terbayang…terus terbayang dengan jelas. Sementara ia tetap dalam untaian doanya yang terdengar pilu di telingaku…betapa tidak? Ia memohonkan untukku sebuah hidayah dan kebaikan tingkah laku….

Dengan sigap, aku bangkit bergegas menuju tempat wudhu, yang selama ini selalu kujauhi… Aku mulai berwudhu kemudian shalat berjamaah subuh di masjid. Sejak saat itulah aku mulai mengenali diriku dan istriku dalam posisi yang kontradiktif. Ia penuh kesabaran dan taat beribadah. Sebaliknya diriku, penuh kemarahan dan sangat ingkar terhadap ibadah.”

Bagaimana akhir kisah ini? Mari kita simak penuturan sahabat lelaki itu. Dia berkata, “Demi Allah…sekarang ini aku berharap bisa berbuat seperti yang dia perbuat kepada istrinya…Kepribadiannya begitu sopan, lembut, dan kewaraannya luar biasa. Bertolak belakang dengan sikap sebelumnya….Kini ia terpilih sebagai petugas muadzin di salah satu masjid jami’ di kota kami tinggal. Sungguh jiwanya telah melekat dengan masjid, padahal dahulunya sangat jauh. Maha Suci Allah yang membolak-balikkan hati.” [1]

Contoh-contoh lain bisa kita temui di sekitar kita, atau kita baca pada buku-buku kisah nyata.
Terasa sempitnya hidup ini, atau berbagai gambaran negatif yang sering terbentuk saat melihat kejadian-kejadian di hadapan kita, kerap menyeret kita ke arah ketidakbahagiaan. Salah satu penyebab hal itu adalah keengganan kita mendoakan orang lain. Cobalah Anda berdoa agar Allah ta’ala melapangkan hati pasangan, insya Allah, kelapangan hati pun akan Anda dapatkan.

Ini sejalan dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ’aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Riwayat Muslim)

Jadi…, mari berdoa untuk pasangan kita tercinta...

Footnote:
[1] Sumber: Website al-Jawaahir al Islamiyyah (dikutip dari buku, “Jangan Berputus Asa, Akhirnya Pertolongan Itu Datang…” Ahmad bin Salim Ba Duwailan. Pustaka Ibnu Katsir)

Semoga Risalah ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin Ya Robbal'Alamiin
Posted by suqa bintang

Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hamdan Wa Syukran Lillah Sholatan Wa Salaman ‘ Ala Rosulilah Amma Ba’ad
Marilah kita bersyukur kepada Allah  SWT atas rahmat dan kasih sayang-Nya yang dilimpahkan kepada kita. Salawat serta salam kita curahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang membawa umat manusia dari kejahiliyaan menuju pengabdian kepada Allah SWT.
Adapun tema kultum yang hari ini saya bawakan yakni :
“ Pentingnya Ilmu Pengetahuan ”
Islam memerintahkan kepada kita untuk mencari ilmu, tidak ada alasan untuk tidak mencari ilmu sebagaimana  sabda Rasulullah saw.
“ Tolabul ilma faridatur  ‘ala kulli muslimin wa muslimah”
Artinya : Mencari ilmu itu wajib bagi orang islam laki – laki dan perempuan.
Dengan ilmu kita bisa menundukkan seluruh makhluk Allah yang ada dimuka bumi ini. Dengan ilmu pula kita bisa memimpin dunia memimpin seluruh makhluk Allah. Kita akan menjadi makhluk terbaik diantara makhluk Allah. Namun jika tidak berilmu, kita akan menjadi bodoh tidak tahu apa-apa didunia ini pada akhirnya kita menjadi makhluk yang paling rendah, kata Allah  “ Asfala Safilin ” tentu kita tidak mau menjadi makhluk yang paling rendah.
  
Allah akan mengangkat derajat orang beriman dan yang berilmu dengan beberapa derajat.
Oleh karena itu marilah kita tetap menuntut ilmu karena dengan ilmu pengetahuan kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.
Sebagai kesimpulan.
Selama hayat masih dikandung badan mari kita selalu menuntut ilmu tanpa mengenal lelah karena ilmu sangat penting dalam kehidupan. Kita tidak bisa menjadi insan kamil tanpa ilmu pengetahuan.
sekian
Wabillahi taufik wal hidaya
Assalamu’ Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selasa, 05 Agustus 2014
Posted by suqa bintang

Makam Ahli Puasa Dijaga Malaikat

Semoga kabar baik akan selalu menyertai kalian semuanya.
Namanya ajal, rejeki dan jodoh, tak seorang pun yang akan
mengetahuinya kecuali hanya Allah Ta'ala

Setiap orang tentu saja mengharapkan kenikmatan di dalam
kuburnya ketika dia sudah meninggal dunia nanti. Salah satu
cara untuk mendapatkan kenikmatan itu adalah dengan rajin
berpuasa. Seperti kisah di bawah ini tentang jenazah yang
dijaga oleh malaikat di dalam kuburnya.

Di dalam sebuah riwayat yang berasal dari Sufyan As-Tsauri
diceritakan bahwa ada seorang muslim yang telah
mendapatkan kebahagiaan di alam barzah karena ia rajin
berpuasa. Pada saat meninggal dunia, ia mendapatkan
kenikmatan yang sangat luar biasa karena amalan-amalan
ibadah selama hidupnya di dunia mampu menjaga dirinya.

Kejadian itu terjadi pada saat Sufyan AsTsauri tinggal di
Makkah selama tiga tahun. Ketika itu, Sufyan salut melihat
salah seorang penduduk Makkah yang bernama Abdullah. Pria
itu memiliki kebiasaan beribadah yang sangat istiqomah.
Selain istiqomah puasa sunnah, ia juga selalu datang ke
Masjidil Haram pada waktu terik matahari, lalu melakukan
tawaf dan shalat sunnah dua rakaat.
Sebelum pulang, ia biasa menyalami Sufyan sehingga diantara
keduanya terjalin persahabatan yang sangat erat. Namun,
pada siang hari yang terik, Sufyan tidak lagi menemukan
Abdullah. Tentu saja hal itu membuat dirinya penasaran
karena waktu sudah lepas dari shalat Ashar, namun
sahabatnya itu tak kunjung datang ke masjid.
Rasa penasaran itu membuatnya selalu bertanya-tanya ada
apa gerangan dengan Abdullah?
"Apa yang terjadi dengan sahabatku Abdullah?"
"Apakah dia sedang sakit?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk dalan hati dan pikiran
Sufyan.
Berawal dari situlah akhirnya Sufyan mendatangi rumah
Abdullah. Dugaan Sufyan ternyata benar adanya. Pada saat
itu Abdullah sedang terbaring sakit di ranjangnya. Dalam
kondisi yang sangat lemah tersebut, Abdullah memanggil
sahabatnya untuk duduk lebih dekat dengannya sembari
mengucapkan sesuatu.
"Apabila aku mati nanti, hendaklah kamu sendiri yang
memandikan aku, menyalatiku, lalu kuburkan aku dan jangan
kau tinggalkan aku sendirian di kuburan pada malam harinya.
Talqinkanlah aku dengan kalimat tauhid ketika Malaikat
Munkar dan Nakir menanyaiku," ujar Abdullah.
Sufyan pun menyanggupinya dan tak lama kemudian Abdullah
meninggal dunia. Sufyan sangat sedih karena telah kehilangan
sahabat karibnya itu. Meski demikian, Sufyan tetap sabar dan
ikhlas sembari melaksanakan amanah yang disampaikan
almarhum kepadanya. Ia merawat jenazah almarhum dengan
memandikan, mengkafani, menyalati hingga ikut
menguburkannya.
Pada malam harinya, Sufyan juga menunggu seorang diri di
atas makam sahabatnya itu sambil membacakan kalimat
talqin. Beberapa saat kemudian, antara sadar dan tidak,
Sufyan mendengar suara dari atas.
"Wahai Sufyan, orang tersebut tidak butuh penjagaanmu, tidak
butuh talqinmu, tidaj juga butuh pelipur laramu karena aku
telah mentalqinkannya dan memberinya kesenangan, "kata
suara tanpa wujud itu.
"Dengan apa engkau menjaganya? "tanya Sufyan.
"Dengan puasa di bulan Ramadhan dan diikuti puasa 6 hari di
bulan syawal," jawab suara itu.
Tak lama setelah dialog itu,tiba-tiba Sufyan terjaga dan
tersadar. Ia kaget karena saat itu ia tidak melihat seorang
pun di sekelilingnya. Sufyan masih ragu, apakah suara itu
berasal dari malaikat atau setan yang berupaya
menghasutnya. Oleh karena itu, Sufyan kemudian pergi untuk
mengambil air wudhu, melaksanakan shalat, kemudian pergi
tidur.
Anehnya, dalam tidur itu ia bermimpi sama persis dengan
kejadian tadi. Bahkan mimpinya berulang hingga tiga kali. Hal
itu membuat Sufyan yakin sekali bahwa suara itu berasal dar
malaikat Allah, bukan dari setan. Ia juga mengerti bahwa
sahabatnya itu telah mendapatkan nikmat kubur.
Sufyan pun berdoa kepada Allah Ta'ala

Ya Allah, dengan anugerah dan kemuliaan-Mu, berilah kami
taufik agar dapat berpuasa seperti puasanya sahabatku ini,
amiiin.
Senin, 30 Juni 2014
Posted by Galih

Bahaya Tidur Setelah Makan Sahur


Salah satu sunnah Ramadhan adalah mengakhirkan sahur. Dalam pelaksanannya,seperti yang dituturkan Anas radhiyallahuanhu dan diriwayatkan Imam Bukhari,  Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ  dan para sahabat hanya mengambil jarak sekira lima puluh ayat menjelang Subuh. Praktis, generasi istimewa itu tidak tidur setelah makan sahur.

Bertolak belakang dari tradisi Rasulullah dan sahabat itu, banyak umat Islam di zaman sekarang yang tidur setelah makan sahur. Akibatnya, terkadang ketinggalan jamaah shalat Subuh. Selain itu, ternyata tidur setelah makan sahur juga berbahaya bagi kesehatan.

Saat tidur, tubuh menghemat energi sehingga jika seseorang langsung tidur setelah makan, maka lemaknya akan mudah tertimbun di perut. Hal ini mengakibatkan perut menjadi buncit.

Selain itu, seperti dijelaskan Pramono (ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin) di Tribunnews , tidur setelah sahur juga bisa mengakibatkan terjadinya refluks. Yakni makanan berbalik dari lambung ke kerongkongan. Ini terjadi lantaran saat seseorang langsung tidur setelah sahur, makanannya belum dicerna dan terpengaruh gravitasi akibat saat tidur. Jika seseorang tidur setelah sahur dan ketika bangun terasa kerongkongan panas dan mulut terasa pahit, itulah tanda-tanda refluks.

Bahaya lainnya adalah, terhambatnya proses pengosongan lambung. Dalam kondisi normal, isi lambung/maag akan kosong kembali sekitar dua jam setelah makan. Namun dalam kondisi tidur, pengosongan isi lambung ini menjadi terhambat dan akan mengakibatkan timbulnya gangguan pencernaan seperti mencret atau sembelit tergantung bahan makanan yang dikonsumsi.

Tidur setelah makan sahur juga bisa meningkatkan resiko terkena stroke. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang memiliki jeda paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko terendah terkena stroke.

Posted by Galih

Dalih Dasar Haramnya Percaya Ramalan

DALIL DASAR HARAMNYA PERCAYA RAMALAN

- QS An Naml :65
ﻗُﻞْ ﻻ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ
Artinya: Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di
langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak
mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
- QS Al-Araf :188
ﻗُﻞْ ﻻ ﺃَﻣْﻠِﻚُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻲ ﻧَﻔْﻌﺎً ﻭَﻻ ﺿَﺮّﺍً ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ
ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﻟَﺎﺳْﺘَﻜْﺜَﺮْﺕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﻣَﺴَّﻨِﻲَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀُ ﺇِﻥْ ﺃَﻧَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻧَﺬِﻳﺮٌ ﻭَﺑَﺸِﻴﺮٌ
ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ
Artinya: Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik
kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan
sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah
aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan
aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak
lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita gembira bagi orang-orang yang beriman".
- QS Al-Jin :26-27
ﻋَﺎﻟِﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻓَﻼ ﻳُﻈْﻬِﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺒِﻪِ ﺃَﺣَﺪﺍً . ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦِ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝٍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻳَﺴْﻠُﻚُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻪِ ﺭَﺻَﺪﺍً
Artinya: (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui
yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan
kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka
sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga
(malaikat) di muka dan di belakangnya.
- QS Al Mulk :5
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑِﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣﺎً ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ ﻭَﺃَﻋْﺘَﺪْﻧَﺎ
ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﺴَّﻌِﻴﺮِ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menghiasi
langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan
Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat
pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka
siksa neraka yang menyala-nyala.
- Hadits sahih riwayat sejumlah perawi hadits
dalam kitab-kitab hadits mereka yaitu Sahih
Muslim VII/37; Sunan Abu Daud IV/21; Musnah
Ahmad IV/68; Sunan Tirmidzi I/242; Sunan Ibnu
Majah I/404. Teks hadits sbb:
ﻣَﻦْ ﺃﺗﻰ ﻋَﺮَّﺍﻓًﺎ ﻓَﺴَﺄَﻟﻪُ ﻋَﻦْ ﺷَﺊٍ ﻟﻢ ﺗﻘْﺒَﻞ ﻟَﻪُ ﺻَﻼﺓُ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦَ ﻟﻴﻠﺔً
Artinya: Barnagsiapa yang datang ke tukang
ramal lalu mempercayai apa yang dikatakan maka
shalatnya tidak diterima selama 40 hari.
Teks hadits riwayat Abu Daud sbb:
ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ
Teks hadits versi Ahmad dan perawi hadits lain
(Ashabus Sunan) dari Abu Hurairah sbb:
ﻣﻦ ﺃﺗﻰ ﻛﺎﻫﻨﺎ ﺃﻭ ﻋﺮﺍﻓﺎ ﻓﺼﺪﻗﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻘﺪ ﻛﻔﺮ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ
Artinya: Barangsiapa yang mendatangi seorang
dukun atau peramal, lalu dia percaya pada apa
yang dikatakan maka dia telah mengingkari
(kufur) syariah Allah yang diturunkan pada Nabi
Muhammad s.a.w.
- Hadits sahih riwayat Muslim no. 537
ﻋﻦ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔَ ﺑﻦِ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺴُّﻠﻤﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ‏« ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ
ﺍﻟﻠﻪِ ! ﺃُﻣُﻮﺭًﺍ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺼْﻨَﻌُﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ، ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺄْﺗِﻲ ﺍﻟﻜُﻬَّﺎﻥَ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻼَ
ﺗَﺄْﺗُﻮﺍ ﺍﻟﻜُﻬَّﺎﻥَ‏»
Artinya: Ya Rasulullah, dulu kami banyak
melakukan sesuau di masa Jahiliyah. Dulu kami
biasa datang ke tukang ramal. Nabi bersabda:
Jangan datang ke dukun tukang ramal.
- Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah
ﻣﻦ ﺍﻗﺘﺒﺲ ﺷﻌﺒﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺠﻮﻡ، ﺍﻗﺘﺒﺲ ﺷﻌﺒﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺤﺮ، ﺯﺍﺩ ﻣﺎ ﺯﺍﺩ
Artinya: Barangsiapa yang mengambl bagian dari
ilmu perbintangan, maka ia telah mengambil
bagian dari ilmu sihir.

Minggu, 22 Juni 2014
Posted by suqa bintang

Sedikit ilmu tentang Hutang

Hutang dalam banyak keadaan merupakan penderitaan dan tekanan hidup
tersendiri, terlebih bagi orang-orang yang kurang mampu. Nabi shallallahu
‘alaihi wa salam sendiri dalam banyak kesempatan berlindung kepada Allah
dari belitan hutang.
Hutang adalah tanggungan harta di pundak orang yang meminjam kepada
pihak yang memberi pinjaman. Sebagai hak sesama hamba, hutang memiliki
konskuensi yang berat di dunia dan akhirat. Jika seseorang memiliki hutang
kepara orang lain, maka ia wajib membayar lunas hutang tersebut.
Seandainya seseorang yang memiliki hutang meninggal dunia, namun
hutang-hutangnya belum dibayarkan secara lunas, maka hutang itu akan
tetap menjadi tanggungan dirinya di alam kubur dan alam akhirat. “ Segala
dosa diampuni atas diri orang yang mati syahid, kecuali hutang.” sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sebagaimana diriwayatkan oleh imam
Muslim.
Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Jika seorang laki-laki yang
meninggal dan memiliki hutang dibawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa salam, maka beliau bertanya, “ Apakah ia meninggilkan harta yang bisa
untuk melunasi hutangnya?”
Jika beliau diberitahu bahwa orang yang meninggal itu memiliki harta untuk
melunasi hutangnya, maka beliau akan menshalatkan jenazahnya. Adapun
jika beliau diberitahu bahwa orang yang meninggal itu tidak memiliki harta
untuk melunasi hutangnya, maka beliau bersabda, “ Hendaklah kalian
menshalatkan jenazah sahabat kalian ini !”
Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah mengajarkan beberapa doa
agar seseorang mendapat kemudahan dari Allah Ta’ala untuk melunasi
hutang-hutangnya. Berikut ini di antaranya.
Doa Pertama
Dari Abu Wail berkata: “Ada seorang (budak) laki-laki datang kepada Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “ Wahai amirul mukminin, saya
tidak mampu melunasi uang syarat pembebasan saya, maka bantulah saya!”
Mendengar hal itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “ Maukah engkau apabila aku
ajarkan kepadamu beberapa patah kata yang telah diajarkan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa salam kepadaku. Dengan beberapa patah kata itu,
seandainya engkau memiliki hutang sebesar gunung Shir niscaya Allah akan
membayarkan hutangmu.
Bacalah:
ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﻛْﻔِﻨِﻲ ﺑِﺤَﻼﻟِﻚَ ﻋَﻦْ ﺣَﺮَﺍﻣِﻚَ، ﻭَﺃَﻏْﻨِﻨِﻲ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﻋَﻤَّﻦْ ﺳِﻮَﺍﻙَ
“Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal sehingga aku terhindar
dari rizki yang haram dan perkayalah aku dengan karunia-Mu sehingga aku
tidak meminta kepa
da selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563, Ahmad no. 1319 dan Al-Hakim no.
1973)
Doa Kedua
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa
salam berdoa:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻬَﻢِّ ﻭَﺍﻟﺤَﺰَﻥِ، ﻭَﺍﻟﻌَﺠْﺰِ ﻭَﺍﻟﻜَﺴَﻞِ، ﻭَﺍﻟﺠُﺒْﻦِ ﻭَﺍﻟﺒُﺨْﻞِ، ﻭَﺿَﻠَﻊِ ﺍﻟﺪَّﻳْﻦِ، ﻭَﻏَﻠَﺒَﺔِ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ
“ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan,
kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, belitan hutang dan
penindasan orang.” (HR. Bukhari no. 6369)
Doa ketiga
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
salam berdoa dalam shalatnya:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟﻘَﺒْﺮِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟﻤَﺴِﻴﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟﻤَﺤْﻴَﺎ، ﻭَﻓِﺘْﻨَﺔِ
ﺍﻟﻤَﻤَﺎﺕِ، ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤَﺄْﺛَﻢِ ﻭَﺍﻟﻤَﻐْﺮَﻡِ
“ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung
kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari
fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari perbuatan dosa dan hutang. “
Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda sering sekali berlindung dari
hutang.”
Maka beliau menjawab, “Jika seseorang telah berhutang, maka jika
berbicara niscaya ia (bisa) berkata dusta dan jika berjanji niscaya ia bisa
mengingkari.” (HR. Bukhari no. 832 dan Muslim no. 589 )
Semoga Allah melindungi kita dari jeratan hutang dan semoga Allah memberi
kita kemampuan untuk melunasi hutang kita saat kita terjerat oleh hutang.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Selasa, 10 Juni 2014
Posted by suqa bintang

Tiga Nasehat

Rasulullah SAW pernah memberikan tiga buah nasehat kepada kedua sehabatnya Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman bin Jabal:

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” HR. Tirmidzi
Tiga pesan Rasulullah SAW tersebut layak untuk kita perhatikan karena sangat berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.
1- BERTAQWA DIMANA SAJA
Definisi dari kata taqwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Umar dan Ubay bin Ka’ab ra. Suatu ketika sahabat Umar ra bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab;“Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”
Sedang menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri atau halangan dalam kehidupan.
Kalau ada suatu iklan minuman ringan: “Dimana saja dan kapan saja …”, maka nasehat Nabi SAW ini menunjukkan bahwa kita harus bertaqwa dimana saja. Sedang perintah taqwa kapan saja terdapat dalam surat Ali Imron 102:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”
Jadi dimanapun dan kapanpun kita harus menjaga ketaqwaan kita. Taqwa dimana saja memang sulit untuk dilakukan dan harus usaha yang dilakukan harus ekstra keras. Akan sangat mudah ketaqwaan itu diraih ketika kita bersama orang lain, tetapi bila tidak ada orang lain maka maksiyat dapat dilaksanakan. Sebagai contoh, ketika kita berkumpul di dalam suatu majelis zikir, pikiran dan pandangan kita akan terjaga dengan baik. Tetapi ketika kita berjalan sendirian di suatu tempat perbelanjaan, maka pikiran dan pandangan kita bisa tidak terjaga. Untuk menjaga ketaqwaan kita dimanapun saja, maka perlunya kita menyadari akan pengawasan Allah SWT baik secara langsung maupun melalui malaikat-Nya.
2 KEBAIKAN YANG MENGHAPUSKAN KESALAHAN
Setiap orang selalu melakukan kesalahan. Hari ini mungkin kita sudah melakukan kesalahan baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Oleh sebab itu, segera setelah kita melaksanakan kesalahan, lakukan kebaikan. Kebaikan tersebut dapat menghapuskan kesalahan yang telah dilakukan.
Untuk dosa yang merugikan diri sendiri, maka salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan bersedekah. Rasulullah SAW bersabda “sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”. Maka ada orang yang ketika dia sakit maka dia akan memberikan sedekah agar penyakitnya segera sembuh. Hal ini dikarenakan segala penyakit yang kita miliki itu adalah karena kesalahan yang kita pernah lakukan.
Sedang dosa yang dilakukan terhadap orang lain maka yang perlu dilakukan adalah memohon maaf yang bagi beberapa orang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal Rasulullah SAW selalu minta maaf ketika bersalah bahkan terhadap Ibnu Ummi Maktum beliau memeluknya dengan hangat seraya berkata “Inilah orangnya, yang membuat aku ditegur oleh Allah… (QS. Abasa)”. Setelah minta maaf kemudian bawalah sesuatu hadiah atau makanan kepada orang tersebut, maka kesalahan tersebut insya Allah akan dihapuskan.
3- AKHLAQ YANG TERPUJI
Akhlaq terpuji adalah keharusan dari setiap muslim. Tidak memiliki akhlaq tersebut akan dapat mendekatkan seseorang dalam siksaan api neraka. Dari beberapa jenis akhlaq kita terhadap orang lain, yang perlu diperhatikan adalah akhlaq terhadap tetangga.
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)
Dari Abu Syuraih ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya: “Siapa itu Ya Rasulullah?” Jawab Nabi: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)
Dari hadits tersebut, peringatan Allah sangat keras sampai diulangi tiga kali yaitu tidak termasuk golongan orang beriman bagi tetangganya yang tidak aman dari gangguannya. Maka terkadang kita perlu instropeksi dengan menanyakan kepada tetangga apakah kita mengganggu mereka.
Wallahua’lam bish showab.
Senin, 17 Maret 2014
Posted by suqa bintang

Persiapan Marathon dan Ramadhan

Teman sekalian,

Coba dibayangkan, seandainya anda adalah seorang pelari nasional yang akan diutus oleh KONI untuk mengikuti lomba lari marathon dunia di Ontario, Kanada. Event tahunan ini merupakan ajang pelari menunjukkan kebolehannya dengan hadiah yang luar biasa. Untuk menghadapi lomba ini, anda akan mempersiapkan fisik dan mental jauh hari sebelum lomba.

Diantara latihan fisik yang anda lakukan adalah lari dalam jarak tertentu seperti 5, 10, 20 atau 25 km. Bahkan anda perlu mencoba lari sampai sekitar 40 km, untuk menyamai jarak yang akan dilombakan. Bisa dibayangkan kalau anda tidak melakukan latihan sampai 40 km, bisa-bisa ketika hari lomba tidak sampai finish. Hal ini menunjukkan bahwa latihan harus diusakan sesuai dengan yang akan dilombakan.

Untuk kesiapan mental terhadap cuaca di Ontario dan penduduk sekitarnya, maka anda tentunya akan tinggal di kota tersebut beberapa minggu sebelum lomba. Anda harus menyesuaikan suhu yang lebih dingin di kota tersebut. Diharapkan pada saat lomba nantinya, tubuh kita sudah siap dan tidak bakal kedinginan atau sakit perut yang bisa menyebabkan kegagalan anda.

Perumpamaan diatas mirip dengan persiapan kita ketika menghadapi bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Ramadhan yang lamanya 29 atau 30 hari membutuhkan stamina dan kesiapan yang matang. Betapa banyak kita lihat shof sholat tarawih yang penuh pada minggu pertama akan menyusut pada minggu-minggu berikutnya. Dan tidak heran kalau nanti pada minggu terakhir, beberapa warung semakin dikunjungi orang yang tidak kuat menahan haus dan lapar. Atau ada orang yang terkena gangguan kesehatan atau flu ditengah atau akhir Ramadhan, hal ini berarti fisiknya belum siap.

Untuk menghadapi Ramadhan, Rasulullah SAW sering melakukan puasa sunnat di bulan Rajab dan Sya’ban. Hal ini seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatnya al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): Usamah berkata pada Nabi saw, ‘Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’

Ibadah lain yang kita perlu persiapkan adalah qiyamu lail atau sholat malam. Dalam bulan Ramadhan, peluang untuk melakukan sholat tahajjud akan besar karena kita akan bangun untuk melakukan sahur. Gunakan waktu sebelum sahur untuk memohon maghfiroh dan keperluan kita kepada Allah SWT.

Bacaan atau tilawah Al Quran juga harus diperbanyak karena bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran dan dimana pahala akan dilipatgandakan. Akan merugilah kita bila waktu yang tersedia dalam bulan tersebut disia-siakan tidak untuk berdzikir atau membaca Al Quran.

Jangan lupa, kita juga perlu membuat suasana ceria dalam keluarga kita dalam menyambut bulan penuh rahmah ini. Bersih dan rapikan rumah. Buatlah hiasan dirumah agar terasa suasana Ramadhan. Buat rencana untuk beribadah bersama keluarga seperti sholat berjamaah, buka puasa dan tadarus bersama. Bahagiakan istri/suami dan anak anda agar bulan Ramadhan M Top  (Memang Top).

Wallahu a’lam.
Posted by suqa bintang

Buku : Niat dan Ikhlas

Niat merupakan amal hati secara murni. Suatu amal tidak akan sempurna amalnya jika tidak disertai niat yang ikhlas. Niat yang ikhlas berarti membersihkan maksud dan tujuan kepada Allah dari maksud lainnya, hanya mengkhususkan Allah sebagai tujuan utama kita. Hal ini dijelaskan dalam hadist diriwayatkan oleh Amir l’Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, yang berbunyi :

“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.” (HR. Bukhari-Muslim)




Hakekat niat dalam beramal:


  • Niat merupakan bagian dari Iman.

Niat merupakan amalan hati. Sedangkan iman adalah diyakini di dalam hati, diucapkan dalam amal dan diuktikan dengan anggota badan dan perbuatan. Allah mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan. Seperti sabda Nabi saw. sebagai berikut :

“Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikkan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat bagi orang tersebut di sisi-Nya dengan kebaikkan yang sempurna.” (Muttafqun alaih)

  • Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya.

Setiap muslim wajib mengetahui ilmu sebelum mengamalkannya, apakah amalan tersenut disyari’atkan atau tidak.

  • Disyaratkannya niat pada amalan-amalan keta’atan.

Suatu kebaikkan tidak dikatakan ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Niat membedakan amalan ibadah dengan kebiasaan atau yang bukan bersifat ibadah. Niat membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain, misalnya puasa di bulan syawal. Bisa jadi dia puasa syawal bisa juga dia puasa membayar hutang puasa. Itu semua tergantung dari niat didalam hatinya. Niat juga menentukan tujuan dari sebuah amalan. Apakah perbuatan itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah atau mengaharapkan selain dari itu tentukan oleh niatnya.

  • Pentingnya ikhlas di dalam beramal.

Sebuah amal bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Mengikhlaskan amalan semata-mata hanya karena Allah merupakan wujud mentauhidkan Allah. Ikhlas bukan hanya berarti tidak menuntut apa-apa dari Allah tapi merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh Allah. Hendaknya kita senantiasa memperhatikan gerak hati kita, karena keikhlasan kita senantiasa diuji. Pertama: sebelum beramal perhatikan niatnya, kepada siapa dank arena apa kita niatkan amal kita. Kedua: ketika sedang beramal, bisa jadiamalan yang semula ikhlas terganggu disebabkan ada kejadian-kejadian khusus dan tak terduga. Ketiga: ketika setelah beramal. Tanpa sadar setelah mungkin bertahun-tahun kita sembunyikan, tiba-tiba dalam sebuah obrolan kita ceritakan jasa kita dulu.

  • Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya.

Sebuah amal kebaikkan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, Dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan -baik kecil apalagi besar-. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat.

Beberapa urgensi niat yang ikhlas :

  • Merupakan ruhnya amal Allah hanya menginginkan hakekat amal bukan rupa dan bentuknya.
  • Salah satu syarat diterimanya amal
  • penentuan nilai/kualitas suatu amal. Suatu amal dapat dibedakan pahalanya berdasakan perbedaan niatnya.
  • Dapat merubah amal-amal yang mubah dan tradisi menjadi ibadah. Pekerjaan mencari rezki bisa menjadi ibadah dan jihad fi sabilillah selagi pekerjaan itu dimaksudkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang haram dan mencari yang halal.
  • Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah, bahkan sebelum ia melaksanakan amalnya.


Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas :

  • Senantiasa meluruskan niat sebelum mulai beramal.
  • Menyerahkan segala cintanya hanya kepada Allah, Rasul dan akhirat
  • Ilmu ikhlas yang mantap
  • Berteman dengan orang-orang yang ikhlas
  • Membaca sirah orang-orang yang Mushlih
  • Mujahadah terhadap nafsu, maksudnya mengarahkan kehendak untuk memerangi nafsu yang menjurus kepada keburukan.
  • Berdo’a dan memohon kepada Allah

Bukti penguat ikhlas :

  • Takut ketenaran, ketenaran tidak tercela tapi yang tercela itu adalah mencari ketenaran.
  • Menuduh diri sendiri, orang yang mukhlis senantiasa menuduh diri sendiri sebagai orang yang berlebih-lebihan di sisi Allah dan kurang dalam melaksanakan berbagai kewajiban.
  • Beramal secara diam-diam jauh dari sorotan
  • Tidak menuntun pujian dan tidak terkecoh oleh pujian.
  • Tidak kikir pujian terhadap orang yang memang harus dipuji.
  • Berbuat selaknya dalam memimpin, dia tidak ambisi dan menuntut kedudukan untuk kepentingan dirinya sendiri.
  • Mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.
  • Menjadikan keridhaan dan kemarahan karena Allah, bukan karena pertimbangan pribadi.
  • Sabar sepanjang jalan
  • Menghindari ujub, merasa puas terhadap apa yang dilakukan.


Referensi:
Dr. Yusuf Qardhawi : Niat dan Ikhlas

Judul Buku : Niat dan Ikhlas
Penulis : Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar
Cetakan : Mei 2008
Tebal : 176 halaman
Selasa, 14 Januari 2014
Posted by suqa bintang

FOLLOW FB FANS PAGE

Popular Post

Labels

DOA (8) HADITS (12) ILMU ISLAM (23) KELUARGA (17) KISAH ISLAM (15) MOZAIK (25) SUNAH (5)

Kontributor

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2013 Suqa Bintang Personal Blog -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -