Tampilkan postingan dengan label ILMU ISLAM. Tampilkan semua postingan
Sikap Dan Perilaku Istri kepada Suami Yang Dilarang Islam
Larangan Islam bagi istri kepada suami :
1. Tidak mentaati perintah suami dalam kebaikan
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki." (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
2. Menolak atau menunda permintaan suami dalam berhubungan intim
Sabda Rasulullah SAW,
Dalam haditsnya yang lain Rasulullah bersabda,
3. Tidak menjaga harta suami
4. Keluar rumah tanpa izin suami
Dalilnya adalah perkataan Sayidina Ali kwj di atas
5. Selalu meremehkan kebaikan yang dibuat suami kepada istri
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
6. Minta cerai tanpa sebab
Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
7. Tidak bersyukur atas segala pemberian suami
Nabi SAW bersabda maksudnya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."
8. Berkata kotor kepada suami, pamer aurat pada orang lain dan tidak berbakti pada suami
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
Empat perempuan yang berada di Neraka yaitu :
- Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinya (memarahinya).
- Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
- Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
- Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.
Ujian dan Cobaan: Penggugur Dosa, Penambah Kebaikan
Namun, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).
Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita. Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita. Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt. Semakin berat cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika berhasil melaluinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).
Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu melewatinya. Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Asmaul husna dan Artinya
1. (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah
2. (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang
3. (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Merajai
4. (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci
5. (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat
6. (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan
7. (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Memelihara / Mengawasi
8. (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa / Ynag Dapat Mengalahkan
9. (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Perkasa / Menundukkan Segalanya
10. (Al Mutakabbir) Artinya Yang Mempunyai kebesaran.
11. (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta
12. (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan / Melepaskan
13. (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk
14. (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun
15. (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Memaksa
16. (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah / Pengkarunia
17. (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18. (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka
19. (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui
20. (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang / Menyempitkan Rezeki
21. (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat / Melapangkan Rizki
22. (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Merendahkan Derajat
23. (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi / Meninggikan Derajat
24. (Al Mu’izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan
25. (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina
26. (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar
27. (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat
28. (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili / Menetapkan Hukum
29. (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil
30. (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut/Halus
31. (Al Khabir) Artinya Yang Maha Waspada
32. (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar
33. (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung
34. (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun
35. (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur / Berterima Kasih
36. (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi
37. (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar
38. (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara
39. (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga / Memberikan Makan
40. (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung
41. (Al Jalil) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran
42. (Al Karim) Artinya Yang Maha Mulia
43. (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada / Mengawasi
44. (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul
45. (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas
46. (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana
47. (Al Wadud) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang
48. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
49. (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula
50. (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan
51. (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar
52. (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentabir / Mengurusi
53. (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat
54. (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh / Kokoh
55. (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi
56. (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji
57. (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung
58. (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal / Memulai
59. (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembalikan
60. (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan
61. (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan
62. (Al Hayyu) Artinya Yang Maha Hidup
63. (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64. (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu
65. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
66. (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa
67. (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal
68. (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan
69. (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya
70. (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa
71. (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Mendahului
72. (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Mengakhiri / Penangguh
73. (Al Awwal) Artinya Yang Pertama
74. (Al Akhir) Artinya Yang Akhir
75. (Az Zahir) Artinya Yang Zahir
76. (Al Batin) Artinya Yang Batin / Tak Kelihatan Dzatnya
77. (Al Wali) Artinya Yang Memerintah / Menguasai
78. (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
79. (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan / Kebaikan
80. (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat
81. (Al Muntaqim) Artinya Yang Maha Memberi Hukuman / Siksaan
82. (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun
83. (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84. (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal / Memiliki Kerajaan
85. (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan
86. (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Adil
87. (Al Jami) Artinya Yang Maha Mengumpulkan
88. (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya
89. (Al Mughni) Artinya Yang Maha Memberi Kekayaan
90. (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah / Mempertahankan
91. (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat / Bahaya
92. (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat
93. (Al Nur) Artinya Memberi Cahaya
94. (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95. (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96. (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal
97. (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi
98. (Ar Rasyid) Artinya Yang Maha Pandai
99. (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar
Panduan Sholat Dhuha – Niat dan Bacaan Doa Sholat Dhuha
Niat Sholat dhuha
Tata cara sholat dhuha
- Setelah membaca niat seperti yang telah tertulis diatas kemudian membaca takbir,
- Membaca doa Iftitah
- Membaca surat al Fatihah
- Membaca satu surat didalam Alquran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam dan rakaat kedua surat Al Lail
- Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
- I’tidal dan membaca bacaannya
- Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
- Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya
- Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
- Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.
Jumlah rakaat sholat dhuha
Setelah menyebutkan pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, As-Suyuthy menyebutkan pendapat sebagian ulama malikiyah, yaitu Imam Al-Baaji Al-Maliky dalam Syarh Al-Muwattha’ Imam Malik. Beliau mengatakan, “Shalat dhuha bukanlah termasuk shalat yang rakaatnya dibatasi dengan bilangan tertentu yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, namun shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang boleh dikerjakan semampunya.” (Al-Hawi lil fataawa, 1:66).
Setelah membawakan perselisihan tentang batasan maksimal shalat dhuha, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,
“Pendapat yang benar adalah tidak ada batasan maksimal untuk jumlah rakaat shalat dhuha karena:
- Hadis Mu’adzah yang bertanya kepada Aisyah radhiallahu’anha, “Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat dhuha?” Jawab Aisyah, “Ya, empat rakaat dan beliau tambahi seseuai kehendak Allah.” (HR. Muslim, no. 719). Misalnya ada orang shalat di waktu dhuha 40 rakaat maka semua ini bisa dikatakan termasuk shalat dhuha.
- Adapun pembatasan delapan rakaat sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang fathu Mekah dari Umi Hani’, maka dapat dibantah dengan dua alasan: pertama, sebagian besar ulama menganggap shalatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika fathu Mekah bukan shalat dhuha namun shalat sunah karena telah menaklukkan negeri kafir. Dan disunnahkan bagi pemimpin perang, setelah berhasil menaklukkan negri kafir untuk shalat 8 rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah. Kedua, jumlah rakaat yang disebutkan dalam hadis tidaklah menunjukkan tidak disyariatkannya melakukan tambahan, karena kejadian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat delapan rakaat adalah peristiwa kasuistik –kejadian yang sifatnya kebetulan– (As-Syarhul Mumthi’ ‘alaa Zadil Mustaqni’ 2:54).
Doa sholat dhuha
Artinya doa sholat dhuha
Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam Terakhir
Ketika Keutuhan Rumah Tangga Harus Diperjuangkan
DO'A KEUTUHAN RUMAH TANGGA
[1] Sumber: Website al-Jawaahir al Islamiyyah (dikutip dari buku, “Jangan Berputus Asa, Akhirnya Pertolongan Itu Datang…” Ahmad bin Salim Ba Duwailan. Pustaka Ibnu Katsir)
Pentingnya Ilmu Pengetahuan
Allah akan mengangkat derajat orang beriman dan yang berilmu dengan beberapa derajat.
Makam Ahli Puasa Dijaga Malaikat
Namanya ajal, rejeki dan jodoh, tak seorang pun yang akan
mengetahuinya kecuali hanya Allah Ta'ala
Setiap orang tentu saja mengharapkan kenikmatan di dalam
kuburnya ketika dia sudah meninggal dunia nanti. Salah satu
cara untuk mendapatkan kenikmatan itu adalah dengan rajin
berpuasa. Seperti kisah di bawah ini tentang jenazah yang
dijaga oleh malaikat di dalam kuburnya.
Di dalam sebuah riwayat yang berasal dari Sufyan As-Tsauri
diceritakan bahwa ada seorang muslim yang telah
mendapatkan kebahagiaan di alam barzah karena ia rajin
berpuasa. Pada saat meninggal dunia, ia mendapatkan
kenikmatan yang sangat luar biasa karena amalan-amalan
ibadah selama hidupnya di dunia mampu menjaga dirinya.
Kejadian itu terjadi pada saat Sufyan AsTsauri tinggal di
Makkah selama tiga tahun. Ketika itu, Sufyan salut melihat
salah seorang penduduk Makkah yang bernama Abdullah. Pria
itu memiliki kebiasaan beribadah yang sangat istiqomah.
Selain istiqomah puasa sunnah, ia juga selalu datang ke
Masjidil Haram pada waktu terik matahari, lalu melakukan
tawaf dan shalat sunnah dua rakaat.
Sebelum pulang, ia biasa menyalami Sufyan sehingga diantara
keduanya terjalin persahabatan yang sangat erat. Namun,
pada siang hari yang terik, Sufyan tidak lagi menemukan
Abdullah. Tentu saja hal itu membuat dirinya penasaran
karena waktu sudah lepas dari shalat Ashar, namun
sahabatnya itu tak kunjung datang ke masjid.
Rasa penasaran itu membuatnya selalu bertanya-tanya ada
apa gerangan dengan Abdullah?
"Apa yang terjadi dengan sahabatku Abdullah?"
"Apakah dia sedang sakit?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk dalan hati dan pikiran
Sufyan.
Berawal dari situlah akhirnya Sufyan mendatangi rumah
Abdullah. Dugaan Sufyan ternyata benar adanya. Pada saat
itu Abdullah sedang terbaring sakit di ranjangnya. Dalam
kondisi yang sangat lemah tersebut, Abdullah memanggil
sahabatnya untuk duduk lebih dekat dengannya sembari
mengucapkan sesuatu.
"Apabila aku mati nanti, hendaklah kamu sendiri yang
memandikan aku, menyalatiku, lalu kuburkan aku dan jangan
kau tinggalkan aku sendirian di kuburan pada malam harinya.
Talqinkanlah aku dengan kalimat tauhid ketika Malaikat
Munkar dan Nakir menanyaiku," ujar Abdullah.
Sufyan pun menyanggupinya dan tak lama kemudian Abdullah
meninggal dunia. Sufyan sangat sedih karena telah kehilangan
sahabat karibnya itu. Meski demikian, Sufyan tetap sabar dan
ikhlas sembari melaksanakan amanah yang disampaikan
almarhum kepadanya. Ia merawat jenazah almarhum dengan
memandikan, mengkafani, menyalati hingga ikut
menguburkannya.
Pada malam harinya, Sufyan juga menunggu seorang diri di
atas makam sahabatnya itu sambil membacakan kalimat
talqin. Beberapa saat kemudian, antara sadar dan tidak,
Sufyan mendengar suara dari atas.
"Wahai Sufyan, orang tersebut tidak butuh penjagaanmu, tidak
butuh talqinmu, tidaj juga butuh pelipur laramu karena aku
telah mentalqinkannya dan memberinya kesenangan, "kata
suara tanpa wujud itu.
"Dengan apa engkau menjaganya? "tanya Sufyan.
"Dengan puasa di bulan Ramadhan dan diikuti puasa 6 hari di
bulan syawal," jawab suara itu.
Tak lama setelah dialog itu,tiba-tiba Sufyan terjaga dan
tersadar. Ia kaget karena saat itu ia tidak melihat seorang
pun di sekelilingnya. Sufyan masih ragu, apakah suara itu
berasal dari malaikat atau setan yang berupaya
menghasutnya. Oleh karena itu, Sufyan kemudian pergi untuk
mengambil air wudhu, melaksanakan shalat, kemudian pergi
tidur.
Anehnya, dalam tidur itu ia bermimpi sama persis dengan
kejadian tadi. Bahkan mimpinya berulang hingga tiga kali. Hal
itu membuat Sufyan yakin sekali bahwa suara itu berasal dar
malaikat Allah, bukan dari setan. Ia juga mengerti bahwa
sahabatnya itu telah mendapatkan nikmat kubur.
Sufyan pun berdoa kepada Allah Ta'ala
Ya Allah, dengan anugerah dan kemuliaan-Mu, berilah kami
taufik agar dapat berpuasa seperti puasanya sahabatku ini,
amiiin.
Bahaya Tidur Setelah Makan Sahur
Salah satu sunnah Ramadhan adalah mengakhirkan sahur. Dalam pelaksanannya,seperti yang dituturkan Anas radhiyallahuanhu dan diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dan para sahabat hanya mengambil jarak sekira lima puluh ayat menjelang Subuh. Praktis, generasi istimewa itu tidak tidur setelah makan sahur.
Bertolak belakang dari tradisi Rasulullah dan sahabat itu, banyak umat Islam di zaman sekarang yang tidur setelah makan sahur. Akibatnya, terkadang ketinggalan jamaah shalat Subuh. Selain itu, ternyata tidur setelah makan sahur juga berbahaya bagi kesehatan.
Saat tidur, tubuh menghemat energi sehingga jika seseorang langsung tidur setelah makan, maka lemaknya akan mudah tertimbun di perut. Hal ini mengakibatkan perut menjadi buncit.
Selain itu, seperti dijelaskan Pramono (ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin) di Tribunnews , tidur setelah sahur juga bisa mengakibatkan terjadinya refluks. Yakni makanan berbalik dari lambung ke kerongkongan. Ini terjadi lantaran saat seseorang langsung tidur setelah sahur, makanannya belum dicerna dan terpengaruh gravitasi akibat saat tidur. Jika seseorang tidur setelah sahur dan ketika bangun terasa kerongkongan panas dan mulut terasa pahit, itulah tanda-tanda refluks.
Bahaya lainnya adalah, terhambatnya proses pengosongan lambung. Dalam kondisi normal, isi lambung/maag akan kosong kembali sekitar dua jam setelah makan. Namun dalam kondisi tidur, pengosongan isi lambung ini menjadi terhambat dan akan mengakibatkan timbulnya gangguan pencernaan seperti mencret atau sembelit tergantung bahan makanan yang dikonsumsi.
Tidur setelah makan sahur juga bisa meningkatkan resiko terkena stroke. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang memiliki jeda paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko terendah terkena stroke.
Dalih Dasar Haramnya Percaya Ramalan
DALIL DASAR HARAMNYA PERCAYA RAMALAN
- QS An Naml :65
ﻗُﻞْ ﻻ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ
Artinya: Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di
langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak
mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
- QS Al-Araf :188
ﻗُﻞْ ﻻ ﺃَﻣْﻠِﻚُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻲ ﻧَﻔْﻌﺎً ﻭَﻻ ﺿَﺮّﺍً ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ
ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﻟَﺎﺳْﺘَﻜْﺜَﺮْﺕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﻣَﺴَّﻨِﻲَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀُ ﺇِﻥْ ﺃَﻧَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻧَﺬِﻳﺮٌ ﻭَﺑَﺸِﻴﺮٌ
ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ
Artinya: Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik
kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan
sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah
aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan
aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak
lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita gembira bagi orang-orang yang beriman".
- QS Al-Jin :26-27
ﻋَﺎﻟِﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻓَﻼ ﻳُﻈْﻬِﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺒِﻪِ ﺃَﺣَﺪﺍً . ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦِ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝٍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻳَﺴْﻠُﻚُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻪِ ﺭَﺻَﺪﺍً
Artinya: (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui
yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan
kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka
sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga
(malaikat) di muka dan di belakangnya.
- QS Al Mulk :5
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑِﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣﺎً ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ ﻭَﺃَﻋْﺘَﺪْﻧَﺎ
ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﺴَّﻌِﻴﺮِ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menghiasi
langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan
Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat
pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka
siksa neraka yang menyala-nyala.
- Hadits sahih riwayat sejumlah perawi hadits
dalam kitab-kitab hadits mereka yaitu Sahih
Muslim VII/37; Sunan Abu Daud IV/21; Musnah
Ahmad IV/68; Sunan Tirmidzi I/242; Sunan Ibnu
Majah I/404. Teks hadits sbb:
ﻣَﻦْ ﺃﺗﻰ ﻋَﺮَّﺍﻓًﺎ ﻓَﺴَﺄَﻟﻪُ ﻋَﻦْ ﺷَﺊٍ ﻟﻢ ﺗﻘْﺒَﻞ ﻟَﻪُ ﺻَﻼﺓُ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦَ ﻟﻴﻠﺔً
Artinya: Barnagsiapa yang datang ke tukang
ramal lalu mempercayai apa yang dikatakan maka
shalatnya tidak diterima selama 40 hari.
Teks hadits riwayat Abu Daud sbb:
ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ
Teks hadits versi Ahmad dan perawi hadits lain
(Ashabus Sunan) dari Abu Hurairah sbb:
ﻣﻦ ﺃﺗﻰ ﻛﺎﻫﻨﺎ ﺃﻭ ﻋﺮﺍﻓﺎ ﻓﺼﺪﻗﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻘﺪ ﻛﻔﺮ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ
Artinya: Barangsiapa yang mendatangi seorang
dukun atau peramal, lalu dia percaya pada apa
yang dikatakan maka dia telah mengingkari
(kufur) syariah Allah yang diturunkan pada Nabi
Muhammad s.a.w.
- Hadits sahih riwayat Muslim no. 537
ﻋﻦ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔَ ﺑﻦِ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺴُّﻠﻤﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : « ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ
ﺍﻟﻠﻪِ ! ﺃُﻣُﻮﺭًﺍ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺼْﻨَﻌُﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ، ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺄْﺗِﻲ ﺍﻟﻜُﻬَّﺎﻥَ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻼَ
ﺗَﺄْﺗُﻮﺍ ﺍﻟﻜُﻬَّﺎﻥَ»
Artinya: Ya Rasulullah, dulu kami banyak
melakukan sesuau di masa Jahiliyah. Dulu kami
biasa datang ke tukang ramal. Nabi bersabda:
Jangan datang ke dukun tukang ramal.
- Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah
ﻣﻦ ﺍﻗﺘﺒﺲ ﺷﻌﺒﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺠﻮﻡ، ﺍﻗﺘﺒﺲ ﺷﻌﺒﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺤﺮ، ﺯﺍﺩ ﻣﺎ ﺯﺍﺩ
Artinya: Barangsiapa yang mengambl bagian dari
ilmu perbintangan, maka ia telah mengambil
bagian dari ilmu sihir.
Sedikit ilmu tentang Hutang
Hutang dalam banyak keadaan merupakan penderitaan dan tekanan hidup
tersendiri, terlebih bagi orang-orang yang kurang mampu. Nabi shallallahu
‘alaihi wa salam sendiri dalam banyak kesempatan berlindung kepada Allah
dari belitan hutang.
Hutang adalah tanggungan harta di pundak orang yang meminjam kepada
pihak yang memberi pinjaman. Sebagai hak sesama hamba, hutang memiliki
konskuensi yang berat di dunia dan akhirat. Jika seseorang memiliki hutang
kepara orang lain, maka ia wajib membayar lunas hutang tersebut.
Seandainya seseorang yang memiliki hutang meninggal dunia, namun
hutang-hutangnya belum dibayarkan secara lunas, maka hutang itu akan
tetap menjadi tanggungan dirinya di alam kubur dan alam akhirat. “ Segala
dosa diampuni atas diri orang yang mati syahid, kecuali hutang.” sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sebagaimana diriwayatkan oleh imam
Muslim.
Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Jika seorang laki-laki yang
meninggal dan memiliki hutang dibawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa salam, maka beliau bertanya, “ Apakah ia meninggilkan harta yang bisa
untuk melunasi hutangnya?”
Jika beliau diberitahu bahwa orang yang meninggal itu memiliki harta untuk
melunasi hutangnya, maka beliau akan menshalatkan jenazahnya. Adapun
jika beliau diberitahu bahwa orang yang meninggal itu tidak memiliki harta
untuk melunasi hutangnya, maka beliau bersabda, “ Hendaklah kalian
menshalatkan jenazah sahabat kalian ini !”
Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah mengajarkan beberapa doa
agar seseorang mendapat kemudahan dari Allah Ta’ala untuk melunasi
hutang-hutangnya. Berikut ini di antaranya.
Doa Pertama
Dari Abu Wail berkata: “Ada seorang (budak) laki-laki datang kepada Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “ Wahai amirul mukminin, saya
tidak mampu melunasi uang syarat pembebasan saya, maka bantulah saya!”
Mendengar hal itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “ Maukah engkau apabila aku
ajarkan kepadamu beberapa patah kata yang telah diajarkan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa salam kepadaku. Dengan beberapa patah kata itu,
seandainya engkau memiliki hutang sebesar gunung Shir niscaya Allah akan
membayarkan hutangmu.
Bacalah:
ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﻛْﻔِﻨِﻲ ﺑِﺤَﻼﻟِﻚَ ﻋَﻦْ ﺣَﺮَﺍﻣِﻚَ، ﻭَﺃَﻏْﻨِﻨِﻲ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﻋَﻤَّﻦْ ﺳِﻮَﺍﻙَ
“Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal sehingga aku terhindar
dari rizki yang haram dan perkayalah aku dengan karunia-Mu sehingga aku
tidak meminta kepa
da selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563, Ahmad no. 1319 dan Al-Hakim no.
1973)
Doa Kedua
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa
salam berdoa:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻬَﻢِّ ﻭَﺍﻟﺤَﺰَﻥِ، ﻭَﺍﻟﻌَﺠْﺰِ ﻭَﺍﻟﻜَﺴَﻞِ، ﻭَﺍﻟﺠُﺒْﻦِ ﻭَﺍﻟﺒُﺨْﻞِ، ﻭَﺿَﻠَﻊِ ﺍﻟﺪَّﻳْﻦِ، ﻭَﻏَﻠَﺒَﺔِ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ
“ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan,
kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, belitan hutang dan
penindasan orang.” (HR. Bukhari no. 6369)
Doa ketiga
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
salam berdoa dalam shalatnya:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟﻘَﺒْﺮِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟﻤَﺴِﻴﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟﻤَﺤْﻴَﺎ، ﻭَﻓِﺘْﻨَﺔِ
ﺍﻟﻤَﻤَﺎﺕِ، ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤَﺄْﺛَﻢِ ﻭَﺍﻟﻤَﻐْﺮَﻡِ
“ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung
kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari
fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari perbuatan dosa dan hutang. “
Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda sering sekali berlindung dari
hutang.”
Maka beliau menjawab, “Jika seseorang telah berhutang, maka jika
berbicara niscaya ia (bisa) berkata dusta dan jika berjanji niscaya ia bisa
mengingkari.” (HR. Bukhari no. 832 dan Muslim no. 589 )
Semoga Allah melindungi kita dari jeratan hutang dan semoga Allah memberi
kita kemampuan untuk melunasi hutang kita saat kita terjerat oleh hutang.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Tiga Nasehat

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” HR. Tirmidzi
Persiapan Marathon dan Ramadhan
Coba dibayangkan, seandainya anda adalah seorang pelari nasional yang akan diutus oleh KONI untuk mengikuti lomba lari marathon dunia di Ontario, Kanada. Event tahunan ini merupakan ajang pelari menunjukkan kebolehannya dengan hadiah yang luar biasa. Untuk menghadapi lomba ini, anda akan mempersiapkan fisik dan mental jauh hari sebelum lomba.
Diantara latihan fisik yang anda lakukan adalah lari dalam jarak tertentu seperti 5, 10, 20 atau 25 km. Bahkan anda perlu mencoba lari sampai sekitar 40 km, untuk menyamai jarak yang akan dilombakan. Bisa dibayangkan kalau anda tidak melakukan latihan sampai 40 km, bisa-bisa ketika hari lomba tidak sampai finish. Hal ini menunjukkan bahwa latihan harus diusakan sesuai dengan yang akan dilombakan.
Untuk kesiapan mental terhadap cuaca di Ontario dan penduduk sekitarnya, maka anda tentunya akan tinggal di kota tersebut beberapa minggu sebelum lomba. Anda harus menyesuaikan suhu yang lebih dingin di kota tersebut. Diharapkan pada saat lomba nantinya, tubuh kita sudah siap dan tidak bakal kedinginan atau sakit perut yang bisa menyebabkan kegagalan anda.
Perumpamaan diatas mirip dengan persiapan kita ketika menghadapi bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Ramadhan yang lamanya 29 atau 30 hari membutuhkan stamina dan kesiapan yang matang. Betapa banyak kita lihat shof sholat tarawih yang penuh pada minggu pertama akan menyusut pada minggu-minggu berikutnya. Dan tidak heran kalau nanti pada minggu terakhir, beberapa warung semakin dikunjungi orang yang tidak kuat menahan haus dan lapar. Atau ada orang yang terkena gangguan kesehatan atau flu ditengah atau akhir Ramadhan, hal ini berarti fisiknya belum siap.
Untuk menghadapi Ramadhan, Rasulullah SAW sering melakukan puasa sunnat di bulan Rajab dan Sya’ban. Hal ini seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatnya al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): Usamah berkata pada Nabi saw, ‘Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’
Ibadah lain yang kita perlu persiapkan adalah qiyamu lail atau sholat malam. Dalam bulan Ramadhan, peluang untuk melakukan sholat tahajjud akan besar karena kita akan bangun untuk melakukan sahur. Gunakan waktu sebelum sahur untuk memohon maghfiroh dan keperluan kita kepada Allah SWT.
Bacaan atau tilawah Al Quran juga harus diperbanyak karena bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran dan dimana pahala akan dilipatgandakan. Akan merugilah kita bila waktu yang tersedia dalam bulan tersebut disia-siakan tidak untuk berdzikir atau membaca Al Quran.
Jangan lupa, kita juga perlu membuat suasana ceria dalam keluarga kita dalam menyambut bulan penuh rahmah ini. Bersih dan rapikan rumah. Buatlah hiasan dirumah agar terasa suasana Ramadhan. Buat rencana untuk beribadah bersama keluarga seperti sholat berjamaah, buka puasa dan tadarus bersama. Bahagiakan istri/suami dan anak anda agar bulan Ramadhan M Top (Memang Top).
Wallahu a’lam.
Buku : Niat dan Ikhlas
“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hakekat niat dalam beramal:
- Niat merupakan bagian dari Iman.
Niat merupakan amalan hati. Sedangkan iman adalah diyakini di dalam hati, diucapkan dalam amal dan diuktikan dengan anggota badan dan perbuatan. Allah mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan. Seperti sabda Nabi saw. sebagai berikut :
“Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikkan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat bagi orang tersebut di sisi-Nya dengan kebaikkan yang sempurna.” (Muttafqun alaih)
- Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya.
Setiap muslim wajib mengetahui ilmu sebelum mengamalkannya, apakah amalan tersenut disyari’atkan atau tidak.
- Disyaratkannya niat pada amalan-amalan keta’atan.
Suatu kebaikkan tidak dikatakan ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Niat membedakan amalan ibadah dengan kebiasaan atau yang bukan bersifat ibadah. Niat membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain, misalnya puasa di bulan syawal. Bisa jadi dia puasa syawal bisa juga dia puasa membayar hutang puasa. Itu semua tergantung dari niat didalam hatinya. Niat juga menentukan tujuan dari sebuah amalan. Apakah perbuatan itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah atau mengaharapkan selain dari itu tentukan oleh niatnya.
- Pentingnya ikhlas di dalam beramal.
Sebuah amal bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Mengikhlaskan amalan semata-mata hanya karena Allah merupakan wujud mentauhidkan Allah. Ikhlas bukan hanya berarti tidak menuntut apa-apa dari Allah tapi merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh Allah. Hendaknya kita senantiasa memperhatikan gerak hati kita, karena keikhlasan kita senantiasa diuji. Pertama: sebelum beramal perhatikan niatnya, kepada siapa dank arena apa kita niatkan amal kita. Kedua: ketika sedang beramal, bisa jadiamalan yang semula ikhlas terganggu disebabkan ada kejadian-kejadian khusus dan tak terduga. Ketiga: ketika setelah beramal. Tanpa sadar setelah mungkin bertahun-tahun kita sembunyikan, tiba-tiba dalam sebuah obrolan kita ceritakan jasa kita dulu.
- Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya.
Sebuah amal kebaikkan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, Dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan -baik kecil apalagi besar-. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat.
Beberapa urgensi niat yang ikhlas :
- Merupakan ruhnya amal Allah hanya menginginkan hakekat amal bukan rupa dan bentuknya.
- Salah satu syarat diterimanya amal
- penentuan nilai/kualitas suatu amal. Suatu amal dapat dibedakan pahalanya berdasakan perbedaan niatnya.
- Dapat merubah amal-amal yang mubah dan tradisi menjadi ibadah. Pekerjaan mencari rezki bisa menjadi ibadah dan jihad fi sabilillah selagi pekerjaan itu dimaksudkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang haram dan mencari yang halal.
- Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah, bahkan sebelum ia melaksanakan amalnya.
Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas :
- Senantiasa meluruskan niat sebelum mulai beramal.
- Menyerahkan segala cintanya hanya kepada Allah, Rasul dan akhirat
- Ilmu ikhlas yang mantap
- Berteman dengan orang-orang yang ikhlas
- Membaca sirah orang-orang yang Mushlih
- Mujahadah terhadap nafsu, maksudnya mengarahkan kehendak untuk memerangi nafsu yang menjurus kepada keburukan.
- Berdo’a dan memohon kepada Allah
Bukti penguat ikhlas :
- Takut ketenaran, ketenaran tidak tercela tapi yang tercela itu adalah mencari ketenaran.
- Menuduh diri sendiri, orang yang mukhlis senantiasa menuduh diri sendiri sebagai orang yang berlebih-lebihan di sisi Allah dan kurang dalam melaksanakan berbagai kewajiban.
- Beramal secara diam-diam jauh dari sorotan
- Tidak menuntun pujian dan tidak terkecoh oleh pujian.
- Tidak kikir pujian terhadap orang yang memang harus dipuji.
- Berbuat selaknya dalam memimpin, dia tidak ambisi dan menuntut kedudukan untuk kepentingan dirinya sendiri.
- Mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.
- Menjadikan keridhaan dan kemarahan karena Allah, bukan karena pertimbangan pribadi.
- Sabar sepanjang jalan
- Menghindari ujub, merasa puas terhadap apa yang dilakukan.
Referensi:
Dr. Yusuf Qardhawi : Niat dan Ikhlas
Judul Buku : Niat dan Ikhlas
Penulis : Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar
Cetakan : Mei 2008
Tebal : 176 halaman









