Dalam hidup, kita tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan.
Terkadang ujian itu dapat kita lalui tanpa kesulitan berarti. Tapi
kadang, cobaan yang kita terima sangat berat sampai rasanya kita tak
sanggup menanggungnya. Pada saat seperti itu, kita mungkin merasa
sebagai orang yang paling malang sedunia. Seakan-akan Allah
meninggalkan kita, membiarkan kita terbenam dalam kesulitan.
Namun, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan),
diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang
menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).
Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan
ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita.
Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan
cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita.
Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan
diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt. Semakin berat
cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika
berhasil melaluinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya
ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi
suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya
manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah
Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan
cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru
(menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji
menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai
dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras).
Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih
dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).
Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi
kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta
meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat.
Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak
dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan
mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana
seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar
emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga
yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke
luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”.
Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu
melewatinya. Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri
kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui
kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga
menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak
menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya
rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi
lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka
keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Tampilkan postingan dengan label DOA. Tampilkan semua postingan
Sikap Dan Perilaku Istri kepada Suami Yang Dilarang Islam
Menjadi istri sholehah dan tunduk pada suami memang dianjurkan oleh Islam. Saya akan berikan beberapa contoh sikap dan perilaku istri kepada suami yang dilarang Islam
yang akan merusak semua amal kebaikannya yang pernah diperbuat dan
tidak boleh anda tiru khususnya kaum hawa yang taat dan beriman kepada
Allah SWT.
Larangan Islam bagi istri kepada suami :
1. Tidak mentaati perintah suami dalam kebaikan
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki." (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
2. Menolak atau menunda permintaan suami dalam berhubungan intim
Sabda Rasulullah SAW,
Dalam haditsnya yang lain Rasulullah bersabda,
3. Tidak menjaga harta suami
4. Keluar rumah tanpa izin suami
Dalilnya adalah perkataan Sayidina Ali kwj di atas
5. Selalu meremehkan kebaikan yang dibuat suami kepada istri
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
6. Minta cerai tanpa sebab
Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
7. Tidak bersyukur atas segala pemberian suami
Nabi SAW bersabda maksudnya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."
8. Berkata kotor kepada suami, pamer aurat pada orang lain dan tidak berbakti pada suami
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
Empat perempuan yang berada di Neraka yaitu :
Larangan Islam bagi istri kepada suami :
1. Tidak mentaati perintah suami dalam kebaikan
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki." (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
2. Menolak atau menunda permintaan suami dalam berhubungan intim
Sabda Rasulullah SAW,
Apabila seorang suami mengajak istri ke tempat tidur (untuk berjima’),
dan istri menolak (sehingga membuat suaminya murka), maka si istri akan
dilaknat oleh malaikat hingga (waktu) subuh. (Diriwayatkan Bukhari,
Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, ad-Darimi dan al-Baihaqi, dari Abu
Hurairah ra)
Dalam haditsnya yang lain Rasulullah bersabda,
Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita
tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya.
Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas
punggung unta, maka ia (istri) tetap tidak boleh menolak. (Ibnu Majah,
Ahmad, Ibnu Hibban dari Abdullah bin Abi Aufa ra)
3. Tidak menjaga harta suami
Sayidina Ali k.w.j. berkata: "Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki
itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan
bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir,
maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia
menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang
halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut.
maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani
keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan
kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya".
4. Keluar rumah tanpa izin suami
Dalilnya adalah perkataan Sayidina Ali kwj di atas
5. Selalu meremehkan kebaikan yang dibuat suami kepada istri
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat
kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya."
6. Minta cerai tanpa sebab
Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
"Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab
yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga keatasnya."
7. Tidak bersyukur atas segala pemberian suami
Nabi SAW bersabda maksudnya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."
8. Berkata kotor kepada suami, pamer aurat pada orang lain dan tidak berbakti pada suami
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
Empat perempuan yang berada di Neraka yaitu :
- Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinya (memarahinya).
- Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
- Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
- Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.
Jumat, 22 Agustus 2014
Posted by suqa bintang
Doa yang terkabul
Tadi malem baca komiknya mas Zia yang menang lomba juara 1. Bisa dibaca disini,
judulnya “Komik – Ketika Kau Jatuh Cinta (2013)”. Komiknya tentang apa
silahkan dibaca sendiri ya.. Komiknya bagus kok, juara 1 gituloh..
Aku inget pas workshop matematika dahsyat, Rabu tanggal 11 bulan lalu. Mas Fahrur yang ngisi workshop cerita. Masnya berdoa kurang lebih seperti ini:
Pengalaman sendiri juga pernah. Jadi, kan aku yakin kalau rezeki kita udah dijamin sama Allah. Cuman kadang malu juga kalo sumbernya lewat orangtua terus. Lalu aku doa, berharap rezeki ku ngak melulu lewat orangtua. Dan ya, beneran terjadi saudara-saudara. Tapi … ada tapinya nih. Sumbernya ternyata dari temen-temenku sendiri. Setelah aku doa seperti itu bisa juga nahan cucuran dari orangtua, dan banyak temen yang ngasih –semacam– traktiran. Nggak cuma satu dua tapi banyak!
Sebagai orang yang tau diri (halah, ngaku-ngaku!), kan ya enggak enak kalo di traktir melulu. Harus mbales juga kan? Muhasabah pun terjadi. Doa memang terkabul, yang salah ada di aku. Usahaku menjemput sumber yang lebih baik kurang maksimal, jadinya ya seperti itu. Aku sadar hal ini waktu naik motor dijalan, antara perempatan gramedia menuju kridosono pas pulang dari kampus. Dalam hati aku nyletuk, ya nggak gini-gini juga kali..
Aku benahi doaku lagi, aku spesifikkan tidak lewat orangtua dan teman-teman. Dan beberapa saat setelah itu benar-benar terjadi lagi. Tawaran mengisi pelatihan bareng dosen pun terlaksana. Dapet HR yang cukup besar meskipun saat pelatihan aku lumayan nggak ngapa-ngapain. Bisa dibilang aku malah jadi perserta, bukan mbayar tapi dibayar.
Setelahnya ada workshop lagi, sekarang sebagai peserta. Yang keren itu dapet uang transport yang besarnya sama seperti HR training itu. HR itu honor ya sodara-sodara, jangan ndeso
. Alhamdulillah, lumayan bisa nyaur hutang ke temen-temen. Sekaligus bisa buka web ini, ehehehe…
Cerita-cerita diatas memang cukup keren. Yang setelah ini juga lumayan keren lho, silahkan dilanjut~
Di saat-saat sempit pernah juga. Mungkin nggak keren kalo yang ini. Jadi akukan sering telat masuk kuliah. Nah, pas alasan telatku itu syar’i aku sering doa.
Di satu kesempatan pernah ngomong ke dosennya “bu, ibu tadi kenapa terlambat (lama)?”
“Oh, saya memang sudah terlambat dari rumah jadi …”
“Ooohh… soalnya saya tadi juga terlambat. Eh, ternyata ibuk lebih terlambat.”
“Iyato?”
“Tadi di jalan ada karnaval, terus muter jauh lewat pinggir kota.”
dst, ya begitulah..
Aku tulis sekarang karena pagi ini perjadi lagi. Tiap pagi kadang kepikiran, berangkat enggak berangkat enggak. Bingung karena udah mepet jamnya, tapi biasanya tetep masuk. Pagi ini ndak masuk dan ternyata kosong.
Bisa juga kebetulan. Dulu pas sering nggak masuk, papasan sama momen kayak gini sering banget. Tapi kalo pas rajin masuk, terus terjadi. Sesuatu deh pokoknya..
Pelajarannya, doa itu juga ada adabnya. Biar terkabul kita juga perlu usaha yang setara. Kadang perlu doa yang spesifik, endak juga ndak apa-apa. Tapi harus siap menerima surprise dari-Nya. Ingat doa Nabi Musa?
Sangat keren bukan? Versi lain yang pernah dikisahkan kepadaku. Nabi Musa bedoa meminta makan karena saat itu sedang dalam perjalanan. “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang fakir”. Beliau minta makan, tapi diberikan semua hal tadi. Waaw banget.
Jadi, boleh saja berdoa yang spesifik seperti komiknya mas Zia. Tapi kalau dikabulkan, dapatnya ya cuma itu. Hehehe.. Atau mau berdoa seperti Nabi Musa?
Tadi mau sekalian masukin adab-adab doa, tapi ternyata sudah terlalu panjang -___-
Aku inget pas workshop matematika dahsyat, Rabu tanggal 11 bulan lalu. Mas Fahrur yang ngisi workshop cerita. Masnya berdoa kurang lebih seperti ini:
Ya Allah, tunjukkan kepadaku aku bisa mendapatkan uang milayaran..Hm -___- sepertinya nggak gitu-gitu banget sih, tapi intinya seperti itu. Dan ternyata doa itu terkabul saudara-saudara. Yang lebih kerennya lagi, karena Mas Fahrur doanya bilang “tunjukkan”, ya uang itu cuma ditunjukkan. Singkat cerita masnya bener-bener dapet uangnya tapi terus dibawa orang. Ada yang salah? Enggak, cocok kok sama doanya.
Pengalaman sendiri juga pernah. Jadi, kan aku yakin kalau rezeki kita udah dijamin sama Allah. Cuman kadang malu juga kalo sumbernya lewat orangtua terus. Lalu aku doa, berharap rezeki ku ngak melulu lewat orangtua. Dan ya, beneran terjadi saudara-saudara. Tapi … ada tapinya nih. Sumbernya ternyata dari temen-temenku sendiri. Setelah aku doa seperti itu bisa juga nahan cucuran dari orangtua, dan banyak temen yang ngasih –semacam– traktiran. Nggak cuma satu dua tapi banyak!
Sebagai orang yang tau diri (halah, ngaku-ngaku!), kan ya enggak enak kalo di traktir melulu. Harus mbales juga kan? Muhasabah pun terjadi. Doa memang terkabul, yang salah ada di aku. Usahaku menjemput sumber yang lebih baik kurang maksimal, jadinya ya seperti itu. Aku sadar hal ini waktu naik motor dijalan, antara perempatan gramedia menuju kridosono pas pulang dari kampus. Dalam hati aku nyletuk, ya nggak gini-gini juga kali..
Aku benahi doaku lagi, aku spesifikkan tidak lewat orangtua dan teman-teman. Dan beberapa saat setelah itu benar-benar terjadi lagi. Tawaran mengisi pelatihan bareng dosen pun terlaksana. Dapet HR yang cukup besar meskipun saat pelatihan aku lumayan nggak ngapa-ngapain. Bisa dibilang aku malah jadi perserta, bukan mbayar tapi dibayar.
Setelahnya ada workshop lagi, sekarang sebagai peserta. Yang keren itu dapet uang transport yang besarnya sama seperti HR training itu. HR itu honor ya sodara-sodara, jangan ndeso
Cerita-cerita diatas memang cukup keren. Yang setelah ini juga lumayan keren lho, silahkan dilanjut~
Di saat-saat sempit pernah juga. Mungkin nggak keren kalo yang ini. Jadi akukan sering telat masuk kuliah. Nah, pas alasan telatku itu syar’i aku sering doa.
Ya Allah, semoga tidak tertinggal kuliah. Entah dosennya terlambat atau kuliahnya belum dimulai.Kira-kira seperti itu. Dan sering jadi nyata sodara-sodara. Bahkan kadang sampai nggak enak ke dosennya, karena ndoakan yang enggak-enggak. Nggak tau diri banget ya
Di satu kesempatan pernah ngomong ke dosennya “bu, ibu tadi kenapa terlambat (lama)?”
“Oh, saya memang sudah terlambat dari rumah jadi …”
“Ooohh… soalnya saya tadi juga terlambat. Eh, ternyata ibuk lebih terlambat.”
“Iyato?”
“Tadi di jalan ada karnaval, terus muter jauh lewat pinggir kota.”
dst, ya begitulah..
Aku tulis sekarang karena pagi ini perjadi lagi. Tiap pagi kadang kepikiran, berangkat enggak berangkat enggak. Bingung karena udah mepet jamnya, tapi biasanya tetep masuk. Pagi ini ndak masuk dan ternyata kosong.
Bisa juga kebetulan. Dulu pas sering nggak masuk, papasan sama momen kayak gini sering banget. Tapi kalo pas rajin masuk, terus terjadi. Sesuatu deh pokoknya..
Pelajarannya, doa itu juga ada adabnya. Biar terkabul kita juga perlu usaha yang setara. Kadang perlu doa yang spesifik, endak juga ndak apa-apa. Tapi harus siap menerima surprise dari-Nya. Ingat doa Nabi Musa?
Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (QS. Al-Qashas: 24).Doa yang sangat tidak spesifik kan? Tahu apa yang Allah berikan ke Nabi Musa setelah itu? Jaminan keamanan, memperoleh istri, mendapat pekerjaan dan tempat tinggal, mendapat tongkat yang jadi mukjizatnya, diajak oleh Allah untuk menuju lembah penuh berkah, lembah Tuwa. Di lembah ini, Allah berbicara langsung dengan Musa menjadikannya sebagai Nabi. Mendapatkan banyak Mukjizat untuk melawan Firaun. Allah mengangkat saudara Musa, Harun, sebagai Nabi, yang akan membantu Musa dalam berdakwah. Allah memenangkan Musa dan Firaun ditenggelamkan di laut merah.
Sangat keren bukan? Versi lain yang pernah dikisahkan kepadaku. Nabi Musa bedoa meminta makan karena saat itu sedang dalam perjalanan. “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang fakir”. Beliau minta makan, tapi diberikan semua hal tadi. Waaw banget.
Jadi, boleh saja berdoa yang spesifik seperti komiknya mas Zia. Tapi kalau dikabulkan, dapatnya ya cuma itu. Hehehe.. Atau mau berdoa seperti Nabi Musa?
Tadi mau sekalian masukin adab-adab doa, tapi ternyata sudah terlalu panjang -___-
Panduan Sholat Dhuha – Niat dan Bacaan Doa Sholat Dhuha
Sholat dhuha atau sholat sunah dhuha merupakan sholat
sunah yang dikerjakan pada waktu dhuha. Waktu dhuha merupakan waktu
dimana matahari telah terbit atau naik kurang lebih 7 hasta hingga
terasa panas menjelang shalat dzhur. atau sekitar jam 7 sampai jam 11,
tentunya setiap daerah berbeda, tergantung posisi matahari pada daerah
masing-masing. Sholat dhuha sebaiknya dikerjakan pada seperempat kedua
dalam sehari, atau sekitar pukul sembilan pagi. Sholat dhuha dilakukan
secara sendiri atau tidak berjamaah (Munfarid)
Niat Sholat dhuha
Untuk niat sholat dhuha hampir sama dengan sholat sunah lainnya, yaitu sebagai berikut
Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa
arti dalam bahasa Indonesia :
Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah.
Tata cara sholat dhuha
Tata cara sholat dhuha hampir sama dengan sholat sunah pada umumnya,
- Setelah membaca niat seperti yang telah tertulis diatas kemudian membaca takbir,
- Membaca doa Iftitah
- Membaca surat al Fatihah
- Membaca satu surat didalam Alquran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam dan rakaat kedua surat Al Lail
- Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
- I’tidal dan membaca bacaannya
- Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
- Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya
- Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
- Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.
Jumlah rakaat sholat dhuha
Sholat
dhuha dilakukan dalam satuan dua rakaat satu kali salam. Sementara itu
untuk berapa jumlah maksimal sholat dhuha ada pendapat yang berbeda dari
para ulama, ada yang mengatakan maksimal 8 rakaat, ada yang maksimal 12
rakaat, dan ada juga yang berbedapat tidak ada batasan.
Untuk
mengetahui lebih jelas mengenai perbedaan pendapat jumlah rakaat sholat
dhuha silahkan simak penjelasan yang kami kutip dari konsultasi syariah
di bawah ini
Pertama, jumlah rakaat maksimal adalah delapan
rakaat. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali.
Dalil yang digunakan madzhab ini adalah hadis Umi Hani’ radhiallaahu ‘anha, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahnya ketika fathu Mekah dan Beliau shalat delapan rakaat. (HR. Bukhari, no.1176 dan Muslim, no.719).
Kedua,
rakaat maksimal adalah 12 rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab
Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan pendapat lemah dalam
Madzhab Syafi’i. Pendapat ini berdalil dengan hadis Anas radhiallahu’anhu
من صلى الضحى ثنتي عشرة ركعة بنى الله له قصرا من ذهب في الجنة
“Barangsiapa
yang shalat dhuha 12 rakaat, Allah buatkan baginya satu istana di
surga.” Namun hadis ini termasuk hadis dhaif. Hadis ini diriwayatkan
oleh Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Mundziri dalam Targhib wat Tarhib.
Tirmidzi mengatakan, “Hadis ini gharib (asing), tidak kami ketahui
kecuali dari jalur ini.” Hadis ini didhaifkan sejumlah ahli hadis,
diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani dalam At-Talkhis Al-Khabir (2: 20), dan Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah (1: 293).
Ketiga,
tidak ada batasan maksimal untuk shalat dhuha. Pendapat ini yang
dikuatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Hawi. Dalam kumpulan fatwanya
tersebut, Suyuthi mengatakan, “Tidak terdapat hadis yang membatasi
shalat dhuha dengan rakaat tertentu, sedangkan pendapat sebagian ulama
bahwasanya jumlah maksimal 12 rakaat adalah pendapat yang tidak memiliki
sandaran sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Hafidz Abul Fadl Ibn
Hajar dan yang lainnya.”. Beliau juga membawakan perkataan Al-Hafidz
Al-’Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi, “Saya tidak mengetahui
seorangpun sahabat maupun tabi’in yang membatasi shalat dhuha dengan 12
rakaat. Demikian pula, saya tidak mengetahui seorangpun ulama madzhab
kami (syafi’iyah) – yang membatasi jumlah rakaat dhuha – yang ada
hanyalah pendapat yang disebutkan oleh Ar-Ruyani dan diikuti oleh
Ar-Rafi’i dan ulama yang menukil perkataannya.”
Setelah menyebutkan pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, As-Suyuthy menyebutkan pendapat sebagian ulama malikiyah, yaitu Imam Al-Baaji Al-Maliky dalam Syarh Al-Muwattha’ Imam Malik. Beliau mengatakan, “Shalat dhuha bukanlah termasuk shalat yang rakaatnya dibatasi dengan bilangan tertentu yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, namun shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang boleh dikerjakan semampunya.” (Al-Hawi lil fataawa, 1:66).
Kesimpulan dan Tarjih
Jika dilihat dari dalil tentang shalat dhuha yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam jumlah rakaat maksimal yang pernah beliau lakukan adalah 12 rakaat. Hal ini ditegaskan oleh Al-’Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi dan Al-’Aini dalam Umdatul Qori Syarh Shahih Bukhari.
Al-Hafidz Al ‘Aini mengatakan, “Tidak adanya dalil –yang menyebutkan
jumlah rakaat shalat dhuha– lebih dari 12 rakaat, tidaklah menunjukkan
terlarangnya untuk menambahinya.” (Umdatul Qori, 11:423)
Setelah membawakan perselisihan tentang batasan maksimal shalat dhuha, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,
Setelah membawakan perselisihan tentang batasan maksimal shalat dhuha, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,
“Pendapat yang benar adalah tidak ada batasan maksimal untuk jumlah rakaat shalat dhuha karena:
- Hadis Mu’adzah yang bertanya kepada Aisyah radhiallahu’anha, “Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat dhuha?” Jawab Aisyah, “Ya, empat rakaat dan beliau tambahi seseuai kehendak Allah.” (HR. Muslim, no. 719). Misalnya ada orang shalat di waktu dhuha 40 rakaat maka semua ini bisa dikatakan termasuk shalat dhuha.
- Adapun pembatasan delapan rakaat sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang fathu Mekah dari Umi Hani’, maka dapat dibantah dengan dua alasan: pertama, sebagian besar ulama menganggap shalatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika fathu Mekah bukan shalat dhuha namun shalat sunah karena telah menaklukkan negeri kafir. Dan disunnahkan bagi pemimpin perang, setelah berhasil menaklukkan negri kafir untuk shalat 8 rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah. Kedua, jumlah rakaat yang disebutkan dalam hadis tidaklah menunjukkan tidak disyariatkannya melakukan tambahan, karena kejadian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat delapan rakaat adalah peristiwa kasuistik –kejadian yang sifatnya kebetulan– (As-Syarhul Mumthi’ ‘alaa Zadil Mustaqni’ 2:54).
Doa sholat dhuha
Do’a Shalat Dhuha bahasa Arab :
Berikut ini merupakan bacaan doa sholat dhuha dalam bahasa arab
اَللهُمَّ
اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ
جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ،
وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ
فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ
مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ
بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ
وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Do’a Shalat Dhuha bahasa indonesia
Sedangkan bagi yang belum bisa membaca tulisan Arab, bisa membaca tekst latin di bawah ini
Allahumma
innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka,
wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka.
Allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi
fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman
fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa
bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita
‘ibadakash shalihin.
Artinya doa sholat dhuha
Di bawah ini merupakan arti dari bacaan sholat dhuha
“Ya
Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah
keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah
kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku
berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi
maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah,
apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai
Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada
hamba-hambaMu yang soleh”.
Semoga artikel mengenai panduan sholat dhuha
yang dilengkapi dengan bacaan niat dan doa sholat dhuha di atas bisa
bermanfaat bagi. Rajinlah sholat dhuha setiap pagi. Semoga selalu
berlimpah pahala dari Allah SWT, mendapatkan rezki halal dan baik bagi
dunia dan akhirat. Aamiin.
DO'A KEUTUHAN RUMAH TANGGA
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillaahirrahmanirrahiim
Betapa banyak rumah tangga diselamatkan oleh Allah dari kehancuran,
karena doa seorang suami atau istri untuk pasangannya. Doa, bisa
mengubah sesuatu yang sepertinya tak mungkin, menjadi mungkin. Tentu
saja, dengan izin Allah ta’aala.
Sebagai contoh kongkrit, marilah
kita simak penuturan seorang suami yang dahulunya selalu memperlakukan
istrinya dengan kasar dan semena-mena. Ia berkata, “Bila aku tidak
menemukan pakaianku terletak di tempatnya, langsung saja aku dengan
kemarahan dan kalap memukulinya dan menempeleng wajahnya. Begitu juga
bila kurang garam dalam makananku. Betapa malangnya dia. Aku bertambah
marah dan naik pitam bila dia menasihatiku. Jika dia menyuruhku shalat,
aku pun marah dan justru menghidupkan musik. Kadang aku juga memaksanya
menghadiri tempat-tempat atau berbagai pesta yang tidak layak dihadiri
oleh seorang wanita muslimah.”
Istrinya pun dihadapkan pada dua
pilihan. Meminta cerai, atau bersabar serta mengadukan segalanya hanya
kepada Allah ta’ala, serta meminta solusi kepada-Nya? Ia yang masih
memiliki rasa cinta kepada suaminya, memilih alternatif kedua. Setiap
malam, pada waktu sahur ia bermunajat kepada Allah ta’ala.
Sang
suami melanjutkan kisahnya. “Terkadang, di malam hari aku bangun dari
tidurku…tidak melihat istriku berbaring di atas ranjang. Maka aku pun
bangkit mencarinya. Ternyata ia sedang berdiri menghadap Allah ta’ala
dan merintih dalam doanya. Kejadian seperti ini diulanginya
berkali-kali.
Hingga pada suatu malam, ketika ia sedang menangis
lirih, berdoa kepada Allah dalam shalat malamnya, aku terbangun.
Tangisan dan doanya itu telah membangunkanku. Lalu aku merasakan sakit
di dadaku. Rasa sakit itu menjadikanku mengingat kembali tentang
kehidupanku selama ini, perlakuanku terhadapnya…terbayang…terus
terbayang dengan jelas. Sementara ia tetap dalam untaian doanya yang
terdengar pilu di telingaku…betapa tidak? Ia memohonkan untukku sebuah
hidayah dan kebaikan tingkah laku….
Dengan sigap, aku bangkit
bergegas menuju tempat wudhu, yang selama ini selalu kujauhi… Aku mulai
berwudhu kemudian shalat berjamaah subuh di masjid. Sejak saat itulah
aku mulai mengenali diriku dan istriku dalam posisi yang kontradiktif.
Ia penuh kesabaran dan taat beribadah. Sebaliknya diriku, penuh
kemarahan dan sangat ingkar terhadap ibadah.”
Bagaimana akhir
kisah ini? Mari kita simak penuturan sahabat lelaki itu. Dia berkata,
“Demi Allah…sekarang ini aku berharap bisa berbuat seperti yang dia
perbuat kepada istrinya…Kepribadiannya begitu sopan, lembut, dan
kewaraannya luar biasa. Bertolak belakang dengan sikap sebelumnya….Kini
ia terpilih sebagai petugas muadzin di salah satu masjid jami’ di kota
kami tinggal. Sungguh jiwanya telah melekat dengan masjid, padahal
dahulunya sangat jauh. Maha Suci Allah yang membolak-balikkan hati.” [1]
Contoh-contoh lain bisa kita temui di sekitar kita, atau kita baca pada buku-buku kisah nyata.
Terasa sempitnya hidup ini, atau berbagai gambaran negatif yang sering
terbentuk saat melihat kejadian-kejadian di hadapan kita, kerap menyeret
kita ke arah ketidakbahagiaan. Salah satu penyebab hal itu adalah
keengganan kita mendoakan orang lain. Cobalah Anda berdoa agar Allah
ta’ala melapangkan hati pasangan, insya Allah, kelapangan hati pun akan
Anda dapatkan.
Ini sejalan dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi
wa sallam, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa
sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Di
atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia
berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut
berkata ’aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.”
(Riwayat Muslim)
Jadi…, mari berdoa untuk pasangan kita tercinta...
Footnote:
[1] Sumber: Website al-Jawaahir al Islamiyyah (dikutip dari buku, “Jangan Berputus Asa, Akhirnya Pertolongan Itu Datang…” Ahmad bin Salim Ba Duwailan. Pustaka Ibnu Katsir)
[1] Sumber: Website al-Jawaahir al Islamiyyah (dikutip dari buku, “Jangan Berputus Asa, Akhirnya Pertolongan Itu Datang…” Ahmad bin Salim Ba Duwailan. Pustaka Ibnu Katsir)
Semoga Risalah ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin Ya Robbal'Alamiin
KEKUATAN DO’A
KEKUATAN DO’A
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa-sanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepa-daKu.” (Al-Baqarah: 186).
Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Al-Mukmin: 60).
Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ، إِلاَّ آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا، أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: إِذًا نُكْثِرُ؟ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ
“Tidaklah seorang Muslim di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah dengan sebuah doa melainkan Allah pasti mengabulkan permintaannya, atau Dia menyingkirkan keburukan darinya (sebagai gantinya) dengan sebesar permintaannya (dari sisi kualitas dan kuantitas), selama dia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau pemutusan silaturrahim’. Maka seorang laki-laki dari suatu kaum berkata, ‘Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa)’. Nabi menjawab, ‘Allah (memiliki karunia) lebih banyak (daripada permintaanmu)’.”
Takhrij Hadits: Hasan Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad 5/329; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da’awat, Bab Fi Intizhar al-Faraj, 5/566, no. 3573; Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya`5/137; al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, no. 1131; al-Baghawi, no. 1387: dari jalur Muhammad bin Yusuf, Ibnu Tsauban menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Makhul, dari Jubair bin Nufair, dari Ubadah dengan hadits tersebut.
Abu Nu’aim berkata, “Zaid bin Waqid dan Hisyam bin al-Ghaz meriwayatkannya dari Makhul semisalnya”. Saya berkata, “Ath-Thabrani meriwayatkan mutaba’ah ini dalam al-Mu’jam al-Ausath, no. 147, dan juga dalam ad-Du’a`, no. 86 dari jalur Maslamah bin Ali dari keduanya. Maslamah ini adalah seorang yang matruk (ditinggalkan) maka mutaba’ahnya tidak bernilai sedikit pun. Al-Baghawi mengatakan hadits tersebut, “Hadits hasan gharib”. Saya berkata, “Disebabkan oleh Ibnu Tsauban maka di dalamnya terdapat pembicaraan, tapi ia tidak turun dari derajat hasan. At-Tirmidzi berkata, dan kemudian disepakati oleh an-Nawawi dan al-Albani, “Hadits hasan shahih”. Saya berkata, “Hasan shahih dengan syahidnya berikutnya.”
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
Dan diriwayatkan oleh al-Hakim Abu Abdillah dalam al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain dari riwayat Abu Sa’id al-Khudri, dan dia menambahkan di dalamnya,
أَوْ يَدَّخِرَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلَهَا.
“….atau Dia menyimpankan pahala semisal untuknya.”
Takhrij Hadits: Shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 29161; Ahmad 3/18; Abu Ya’la, no. 1019; al-Hakim 1/493; al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, no. 1128 dan 1130: dari beberapa jalur, dari Ali bin Ali ar-Rifa’i, dari Abu al-Mutawakkil an-Naji, dari Abu Sa’id al-Khudri dengan hadits tersebut.Sanad ini hasan disebabkan oleh ar-Rifa’i, pada dirinya terdapat pembicaraan, tapi haditsnya tidak turun dari derajat hasan. Hadits tersebut telah dimutaba’ah, maka ath-Thabrani telah meriwayatkannya dalam al-Mu’jam ash-Shaghir, no. 1025: dari jalur Sa’id bin Basyir, dari Qatadah, dari Abu al-Mutawakkil. Dan Sa’id adalah seorang yang dhaif, apalagi haditsnya dari Qatadah. Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam asy-Syu’ab, no. 1129: dari jalur Sulaiman at-Taimi, dari Abu ash-Shiddiq an-Naji, dari Abu Sa’id. Dan yang zahir bahwa dia tidak terjaga sebagaimana yang dikatakan oleh al-Baihaqi. Akan tetapi hadits tersebut shahih dengan terkumpulnya jalur-jalur ini. Al-Hakim dan al-Albani menshahih-kannya. Al-Mundziri dan al-Haitsami menguatkannya.
Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُوْلَ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.
“Doa akan dikabulkan untuk salah seorang dari kalian selama tidak tergesa-gesa (minta dikabulkan). Di mana dia berkata, ‘Saya telah berdoa, namun belum dikabulkan untukku’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab ad-Da’awat, Bab Yustajabu li al-’Abdi Ma Lam Ya’jal, 11/140, no. 6340; dan Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab Yustajabu li ad-Da’i Ma Lam Ya’jal, 4/2095, no. 2735.)
Sumber: dikutib dari Buku “Ensiklopedia Dzikir dan Do’a Al-Imam An-Nawawi Takhrij & Tahqiq: Amir bin Ali Yasin. Diterbitkan oleh: Pustaka Sahifa Jakarta. Oleh: Abu Nabiel)
Surat Cinta dari AYAH dan IBU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Keridhaan ALLAH, bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan ALLAH, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua” (HR. at-Tirmidzi)
Jika pintu surga berada di bawah telapak kaki ibu,
maka sudah sepantasnya jika kunci pintu surga itu berada di tangan ayah yang lelah bekerja..
Bagiku,, Ayah.. Ibu.. adalah bagian terbesar dalam tujuan hidupku, setelah ALLAH dan Rasul-NYA..
mereka juga turut andil dalam “alasan” mengapa saat ini aku berada disini!
Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta yang tak terbatas, meski terkadang cinta itu tak terbalas..
Suatu waktu dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang kesepian. Merindu kita yang mulai asik dengan diri kita sendiri. Kita mulai membangun cara pandang berbeda dan bahkan mencari alasan yang terlalu rumit untuk merasa tidak memahami seorang ibu secara apa adanya. Di usia kita yang belum terlalu tegak menjadi lelaki atau perempuan dewasa, ibu kita masih dan akan selalu berkata, “Hati-hati nak”, dan kita selalu menjawab, “Sudah ngerti bu, aku sudah besar.”
Suatu ketika dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang mencintai kita dengan segenap perasaannya yang dulu, tidak berubah. Sama kuatnya, sama tulusnya.Ayah adalah ayah yang tidak memberitahuku bagaimana cara hidup, dia hidup dan membiarkan aku melihat bagaimana cara dia melakukannya..
Ayah selalu punya cara sendiri dalam mencintai kita..
Di balik diamnya ada cinta, cinta yg menyampaikan begitu banyak makna.. dan tugas kitalah untuk mencari makna-makna tersebut, agar kita bisa menemukan bahwa “Diam itu Benar-benar Cinta”..
Bahkan cinta yang luar biasa tulus dan sangat dalam..
Kita tak pernah tau.. bahwa setiap ayah selalu merasa rezekinya ada, sebagian karena kita anaknya......Sementara kita jarang sekali menyadari, bahwa rezeki kita ada, lantaran ada orang tua kita......
Akan tiba masa dimana beliau, Ayah dan Ibu kita memasuki masa senja..
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya) : “ Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. al-Isra : 23-24)
Masa yang pasti akan dilewati oleh semua ayah dan ibu, dimana saja. Meski kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya memang tak dapat dihentikan sang waktu. Namun sebagai manusia, kekuatan beliau tentu tidak akan abadi. Pada akhirnya Ayah yang kuat, Ibu yang lembut harus melalui masa yang belum pernah dibayangkan selama ini.
Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya berubah menjadi sengau, tak mampu menyetabilkan nada yang keluar. Semakin memasuki masa senja, bisa jadi kepekaan beliau semakin bertambah. Menjadi lebih mudah tersinggung, lebih mudah melampiaskan amarahnya, lebih mudah tersentuh hatinya hanya oleh kata-kata atau ucapan, beliau jadi agak sensitif.
SEPUCUK SURAT DARI AYAH DAN IBU
Anak ku...
Ketika aku semakin tua, aku harap kamu memahami & memiliki kesabaran untukku
Suatu ketika aku memecahkan piring Atau menumpahkan sup diatas meja karna penglihatanku berkurang ,
Aku harap kamu tidak memarahiku
Orang tua itu sensitif..
Selalu merasa bersalah bila
kamu berteriak
Ketika pendengaranku semakin memburuk dan tidak bisa mendengar apa yang kamu ucapkan , Aku harap kamu tidak memanggilku "Tuli! "
Mohon ulangi saja apa yg kau ucapkan atau mungkin menuliskannya untukku
Maaf anak ku , aku semakin tua
Ketika lututku mulai melemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantu ku bangun,
Seperti bagaimana aku selalu membantumu saat kamu masih kecil untuk belajar berjalan
Tolong jangan mengejekku atau bosan mendengarku, Ketika aku mengulangi apa yg aku katakan terus menerus, Aku harap kamu terus mendengarkan aku, Apakah kamu masih ingat , ketika kamu masih kecil dan kamu menginginkan sebuah balon? Kau mengulangi apa yg kau mau sampai berulang - ulang untuk memilikinya....
Maafkan juga bau ku, tercium seperti orang yg sudah tua
Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi, tubuhku lemah
Orang tua itu rentan.. Mudah sakit apabila terkena dingin. Aku harap aku tidak terlihat kotor untukmu
Aku berharap kamu bisa mengerti ketika aku rewel.
Ini adalah bagian dari menjadi tua. Kamu akan mengerti apabila kamu sudah tua nanti
Dan apabila kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara. Bahkan untuk beberapa menit
,Aku selalu sendiri sepanjang hidup semasa tuaku dan tidak memiliki seseorang pun untuk diajak bicara
Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan
Bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceriitaku,
aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mendengarkan apapun yg kamu ceritakan tentang mainanmu
Ketika saatnya tiba..
Dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit
Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku
MAAF jika aku sengaja mengompol atau membuat berantakan,
Aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku
Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama.. Ketika waktu kematian ku datang, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikan aku kekuatan untuk menghadapi kematian
Janganlah sedih pada saat itu anakku!!!
Kematian bukan hal yang menyakitkan..
Dan kamu belum tahu rasa kematian seperti apa.
Jika setelah itu kamu membuka lemari,
Dan menemui bekas baju-bajuku..
Simpanlah.. Karna aku ingin kamu terus mengingatku..
Dan jangan khawatir nak,
Ketika aku bertemu pada sang pencipta
Aku akan berbisik pada-Nya untuk selalu memberimu BERKAH karna kamu menyayangi Ayah dan ibumu...
Terima kasih atas segalanya nak...
Kami mecintaimu dengan kasih yg berlimpah..
Disini kami akan selalu melindungimu...
We love you
With much love
Mom & Dad





