HADIST DAN ATSAR TENTANG KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Hadist-hadits TENTANG KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah menjadikannya ia pandai mengenai agama dan ia diilhami PetunjukNYa [Muttafaq 'alaih]
Ulama itu adalah pewaris para Nabi [Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban]
“sesuatu yang di langit dan bumi itu memohonkan ampunan bagi orang ‘alim (pandai)” [Abu Darda']
sesungguhnya hikmah (ilmu) itu menambah orang yang mulia akan kemuliaan dan mengangkat hamba sahaya sehingga ia mencapai capaian raja-raja. [Abu Na'im dalam Al Hilyah, Ibnu Abdil Barr dalam Bayaul Ilmi, dan Abd. Ghani dalam Adabul Muhaddits dari hadits Anas dengan sanad yang lemah]
Dua pekerti tidak terdapat di dalam orang munafik, yaitu perilaku yang baik dan pandai dalam agama [H.R. At Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia mengatakan hadits gharib]
Seutama-utama manusia adalah orang mu’min yang’alim (pandai) yang jika ia dibutuhkan maka ia berguna, dan jika ia tidak dibutuhkan maka ia mencukupkan dirinya.” [Al Baihaqi dalam Syu'bul Iman mauquf pada Abu Darda' dengan sanad yang lemah]
Iman itu telanjang, pakaianya adalah takwa, perhiasannya adalah malu, dan buahnya adalah ilmu [Al Hakim dalam Tarikh Naisabur dari hadits Abu Darda' dengan sanad yang lemah]
Orang yang paling dekat dari derajat kenabian adalah ahli ilmu dan jihad (perjuangan). Adapun ahli ilmu maka mereka menunjukkan manusia atas apa yang dibawa para rasul, sedangkan ahli jihad maka mereka berjuang dengan pedang (senjata) mereka atas apa yang dibawa oleh para rasul [Abu Na'im dalam Fadhlul 'alim al 'afif 'dari hadits Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah.]
sungguh matinya satu kabilah itu lebih ringan dari pada matinya seorang ‘alim [Ath Thabrani dan Ibnu Abdil Barr dari hadits Abu Darda']
Manusia itu adalah barang tambang seperti tambang emas dan perak. Orang-orang pilihan mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang pilihan mereka di masa Islam apabila mereka pandai [Muttafaq 'alaih]
Pada hari Kiyamat tinta ulama itu ditimbang dengan darah orang-orang yang mati syahid [Ibnu Abdil Barr dari Abu Darda'dengan sanad yang lemah]
Barang siapa yang memelihara empat puluh buah hadits dari As Sunnah atas ummatku sehingga ia menunaikannya kepada mereka maka aku akan menjadi pemberi syafa’at kepadanya dan saksinya pada hari Kiyamat [Ibnu Abdil Barr dalam al 'Ilm dari hadits Ibnu Umar dan ia'melemahkannya.]
Barang siapa dari ummatku menghafal empat puluh buah hadits maka ia bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiyamat sebagai seorang faqih yang ‘alim [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dan ia melemahkannya]
Barang siapa memahami tentang agama Allah ‘Azza Wa Jalla maka Allah Ta’ala mencukupinya akan sesuatu yang menjadi kepentingannya dan Dia memberinya rizki dari sekiranya ia tidak memperhitungkannya [Al Khathib dalam Tarikh dari hadits Abdullah bin Juz - Az zabidi dengan sanad yang lemah]
Allah ‘Azza wa Jalla memberi wahyu kepada Ibrahim as : “Hai Ibrahim, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui, Aku senang kepada setiap orang yang pandai [Dituturkan oleh Ibnu Abdil Barr sebagai komentar]
Orang pandai adalah kepercayaan Allah Yang Maha Suci di atas bumi [Ibnu Abdil Barr dari Mu'adz dengan sanad yang lemah]
Dua golongan dari ummatku apabila mereka baik maka manusia baik, dan apabila mereka rusak maka manusia rusak, yaitu para pemegang pemerintahan dan para ahli fiqh [Ibnu Abdil Barr dan Abu Na'im dari hadits Ibnu Abbas.]
Apabila datang hari kepadaku padanya saya tidak bertambah ilmu yang mendekatkan saya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla maka saya tidak mendapat berkah pada terbitnya matahari hari itu [Ath Thabrani dalam Al Ausath dan Abu Na'im dalam Al Hilyah, dan Ibnu Abil Barr dalam Al 'Ilm]
Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah dari shahabatku [At Tirmidzi dari hadits Abu Umamah]
Kelebihan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti kelebihan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang [Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa'i dan Ibnu Hibban, dan itu sepotong dari hadits Abu Darda' yang terdahulu]
Pada hari Kiyamat tiga macam orang memberi syafa’at yaitu: para Nabi, para ulama kemudian orang-orang yang mati syahid [Ibnu Majah dari hadits Utsman bin 'Affan dengan sanad yang lemah]
Tidaklah Allah Ta’ala disembah dengan sesuatu yang utama dari pada pemahaman terhadap agama. Sungguh seorang faqih itu lebih berat atas syaithan dari pada seribu orang ahli ibadah. Setiap sesuatu itu mempunyai tiang, dan tiang agama ini adalah fiqh [Ath Thabrani dalam Al Ausath, Abu Bakar Al Ajiri dalam Fadhlul 'ilmi, dan Abu Na'im dalam Riyadhatul Muta'allimin dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah]
Sebaik-baik agamamu adalah yang termudahnya, dan sebaik-baik ibadah adalah fiqh (pemahaman) [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dengan sanad yang lemah]
Keutamaan mu’min yang ‘alim atas mu’min yang ahli ibadah adalah dengan tujuh puluh derajat [Ibnu Adi dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah]
Sesungguhnya kamu menjadi dalam masa yang banyak ahli fiqhnya, sedikit qurra’ (ahli baca Al Qur’an) nya dan ahli pidatonya, sedikit orang yang meminta-minta dan banyak orang yang memberinya. Amal padanya adalah lebih baik dari pada ilmu. Dan akan datang kepada manusia masa yang sedikit ahli fiqhnya, banyak juru pidatonya, sedikit orang yang memberinya, banyak orang yang meminta-minta. Ilmu pada masa itu lebih baik dari pada amal [Ath Thabrani dari hadits Hizam bin Hakim dari pamannya, ada yang mengatakan dari ayahnya, sanadnya lemah]
Antara orang yang ‘alim dan orang yang beribadah adalah seratus derajat, antara setiap dua derajat itu ditempuh kuda pacuan yang dilatih selama tujuh puluh tahun [Al Ashfihani dalam At Targhib wat Tarhib, dari lbnu Umar dari ayahnya]
Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, amal-amal apakah yang lebih utama ?” Beliau bersabda : “Ilmu tentang Allah ‘Azza Wa Jalla” Lalu ditanyakan : “IImu apakah yang engkau kehendaki ?”. Beliau SAW bersobds : “Ilmu tentang Allah ‘Azza Wa Jalla”. Lalu dikatakan kepadanya : “Kami bertanya mengenai amal sedangkan engkau menjawab mengenai ilmu”. Maka beliau SAW bersabda : “Sesungguhnya amal sedikit disertai ilmu (mengetahui) tentang Allah itu berguna dan banyaknya amal serta bodoh mengenai Allah itu tidak berguna [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dengan sanad yang lemah]
Allah Yang Maha Suci poda hari Kiyamat membangkitkan hamba-hamba kemudian Dia membangkitkan ulama kemudian Dia berfirman : “Wahai golongan ulama, sesungguhnya Aku tidak meletakkan ilmuKu padamu kecuali karena Aku mengetahui tentang kamu, dan Aku letakkan ilmuKu padamu agar Aku tidak menyiksamu, pergilah karena Aku telah memberi ampunan kepadamu”. [Ath Thabrani dari hadits Abu Musa dengan sanad yang lemah]
.
Atsar-atsar TENTANG KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Adapun atsar (kata-kata shahabat), Ali bin Abi Thalib ra berkata kepada Kumail :
“Hai Kumail, ilmu itu lebih utama dari pada harta karena ilmu itu menjagamu sedangkan kamu menjaga harta. Ilmu adalah hakim, sedangkan harta adalah yang dihakimi. Harta menjadi berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu menjadi berkembang dengan dibelanjakan (diberikan kepada orang lain)”.
Ali ra juga berkata :
“Orang yang ‘alim itu lebih utama dari pada orang yang berpuasa, berdiri ibadah malam dan berjuang. Apabila seorang ‘alim meninggal maka berlobanglah dalam Islam dengan suatu lobang yang tidak tertutup kecuali oleh penggantinya”.
Dan ia berkata dalam bentuk syair (nazham) :
Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahli ilmu, sesungguhnya mereka di atas petuniuk, dan mereka penunjuk orang yang minta petuniuk. Nilai setiap orang adalah sesuatu yang meniadikannya baik, sedangkan orang-orang bodoh itu musuh ahli ilmu. Maka carilah kemenangan kamu dengan ilmu, dengon ilmu itu kamu hidup selamanYa, munusiq itu mati, sedangkan ahli ilmu itu hidup
.
Abul Aswad berkata :
“Tidak ada sesuatu yang lebih utama dari pada ilmu. Para raja itu memerintah manusia (orang kebanyakan), sedangkan para ahli ilmu itu memerintah para raja”.
Ibnu Abbas ra berkata :
“Sulaiman bin Dawud as disuruh memilih antara ilmu, harta dan kerajaan maka beliau memilih ilmu, lalu beliau diberi harta dan kerajaan”.
Ibnul Mubarak ditanya :
“Siapakah manusia itu” Ia menjawab : “Para ulama”. Ditanyakan lagi : “Siapakah para raja itu ?”. Ia menjawab : “Orang-orang yang zuhud”. Ditanyakan lagi : “Siapakah orang rendahan itu ?” Ia menjawab : “Orang-orang yang memakan dunia dengan agama”.
Ia tidak memasukkan orang yang tidak berilmu ke golongan manusia karena kekhususan yang membedakan manusia terhadap seluruh hewan adalah ilmu. Maka manusia adalah manusia yang menjadi mulia karena ilmu. Kemuliaan itu bukan karena kekuatan dirinya karena unta itu lebih kuat dari padanya. Dan bukan karena besarnya, karena gajah itu lebih besar dari padanya. Dan bukan karena beraninya karena binatang buas itu lebih berani dari padanya. Bukan karena makannya karena lembu itu lebih besar perutnya dari pada perutnya. Dan bukan karena bersetubuhnya karena burung pipit yang paling rendah itu lebih kuat untuk bersetubuh dari padanya. Bahkan manusia itu tidak dijadikan (tidak diciptakan) kecuali karena ilmu.
Fathul Maushuli rahimahullah berkata :
“Bukankah orang sakit apabila dicegah makan, minum dan obat maka ia mati ?’,. Mereka (orang-orang) menjawab : “Ya”. Ia berkata : “Demikian juga hati, apabila dicegah dari padanya hikmah dan ilmu selama tiga hari maka hati itu akan mati”.
Ia benar’karena makanan hati adalah ilmu dan hikmah, dan dengan keduanyalah hidupnya hati sebagaimana makanan tubuh adalah makanan.
Barangsiapa yang tidak mendapat ilmu maka hatinya sakit sedangkan matinya itu pasti. Tetapi ia tidak merasakannya karena cinta dan sibuk dengan dunia itu mematikan perasaannya sebagaimana takut itu kadang-kadang meniadakan sakitnya luka seketika, meskipun luka itu masih ada. Apabila kematian telah menghilangkan bebanan-bebanan dunia maka ia merasakan kebinasaannya dan ia menyesal dengan sesalan yang besar namun sesalan itu tidak berguna baginya.
Itu seperti perasaan orang yang aman dari takutnya, dan orang yang sadar dari mabuknya terhadap lukaJuka yang dideritanya dalam keadaan mabuknya atau dalam keadaan takut. Maka kita mohon perlindungan kepada Allah pada hari dibukanya tutup. Sesungguhnya manusia itu tidur,’apabila mati maka mereka jaga (bangun).
Al Hasan rahimahullah berkata :
“Tinta ulama itu ditimbang dengan darah syuhada, maka tinta ulama itu unggul atas darah syuhada”.
Ibnu Mas’ud ra berkata :
“Wajib atasmu untuk berilmu sebelum ilmu itu diangkat, sedangkan diangkatnya ilmu adalah matinya perawi-perawinya. Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu sebagai syuhada’ itu senang dibangkitkan oleh Allah sebagai ulama karena kemuliaan ulama yang mereka lihat. Sesungguhnya seseorang itu tidak dilahirkan sebagai orang yang berilmu, namun ilmu itu dengan belajar”.
Ibnu Abbas ra berkata :
“Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai dari pada menghidupkan malam itu (dengan shalat dan sebagairlo : pent)”.
Demikian juga dari Abu Hurairah ra dan Ahmad bin Hambal rahimahullah.
Al Hasan berkata mengenai firman Allah Ta’ala :wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” (Al Baqarah : 201). Bahwasanya kebaikan di dunia itu adalah ilmu dan ibadah, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga.
Ditanyakan kepada sebagian hukama :
“Barang apakah yang selalu mengikuti (pemiliknya) ?”.Ia berkata : “Barang yang mana apabila kapalmu tenggelam maka kamu berenang bersamanya, yaitu ilmu”.
Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tenggelamnya kapal adalah hancurnya badan karena mati.
Sebagian mereka berkata :
“Barang siapa mengambil hikmah (ilmu) sebagai kendali maka manusia menjadikannya sebagai pemimpin. Dan barang siapa mengetahui hikmah maka ia dipandang oleh semua mata dengan penghormatan”.
Asy Syafi’i ra berkata :
“Termasuk kemuliaan ilmu adalah setiap orang yang dikatakan berilmu walaupun mengenai sesuatu yang remeh maka ia bergembira dan barang siapa yang (dikatakan) tidak memiliki ilmu maka ia bersedih”.
Umar ra berkata :
“Wahai manusia, wajib atasmu untuk berilmu. Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memiliki selendang yang dicintaiNya. Barangsiapa menuntut satu bab dari ilmu maka Allah menyelendanginya dengan selendangnya. Jika ia berbuat dosa maka ia agar memperbaikinya tiga kali agar selendangnya itu tidak dilepas dari padanya, meskipun dosanya itu berkepanjangan sehingga ia meninggal”.
Al Ahnaf rahimahullah berkata :
“Ulama itu hampir-hampir sebagai Tuhan, dan setiap kemuliaan yang tidak dimantapkan oleh ilmu maka akhirnya menjadi hina”.
Salimbin Abil Ja’d berkata:
”Tuanku membeliku dengan tiga ratus dirham dan ia memerdekakan saya”. Lalu saya berkata : Dengan apakah saya bekerja ?”. Maka saya bekerja dengan ilmu dan tidak genap setahun bagiku sehingga datanglah amir Madinah kepadaku dan saya tidak mengizinkan baginya”.
Az Zubair bin Abu Bakar berkata :
“Ayahku di Irak berkirim surat kepadaku, “wajib atasmu berilmu. Jika kamu fakir maka ilmu itu menjadi hartamu. Dan jika kamu kaya maka ilmu itu menjadi keindahan bagimu”.
Demikian itu dihikayatkan juga dalam wasiyat-wasiyat Luqman kepada anaknya, ia berkata :
“Hai anakku, duduklah pada ulama dan merapatlah kepada mereka dengan kedua lututmu karena sesunguhnya Allah Yang Maha Suci menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah dengan hujan dari langit”.
Sebagian hukama’ berkata :
“Apabila orang’alim meninggal maka ia ditangisi oleh ikan di air, dan oleh burung di udara, ia hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan penyebutannya."
Az Zuhri rahimahullah berkata :
“Ilmu jantan, dan tidak menyintainya kecuali orang laki-laki yang jantan”.
PUASA SUNNAH
Bismillah
Setelah kita terbiasa ibadah shalat malam alangkah baiknya kita tambah amal sholeh kita untuk menjalankan puasa Senin & Kamis atau puasa sunnah lain yang kita mampu untuk melakukan. Hidup di dunia ini kan untuk beribadah kepada Allah serta mengumpulkan amal untuk akhirat kita salah satunya dengan ibadah shaum sunnah.
Dari Abu Said Al Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata:
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ
النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh ribu musim.”
[HR. Al-Bukhari no. 2628 dan Muslim no. 1153]
Ada yang menafsirkan ‘di jalan Allah’ dengan jihad dan ada juga yang menafsirkannya dengan ketaatan kepada Allah secara umum, wallahu a’lam.
Abu Hurairah -radhiallahu anhu- berkata:
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ
فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ
عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ
رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Allah Ta’ala telah berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya.
Dan shaum itu adalah benteng (dari api neraka), maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak.
Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan ‘Aku orang yang sedang shaum’.
Dan demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik.
Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya:
Apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan RabB-Nya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu”.
[HR. Al-Bukhari no. 1771 dan Muslim no. 1151]
12 Kaum yang sangat Dimurkai Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya
Dalam Alquran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang. Berikut adalah kaum-kaum yang dibinasakan.
1. Kaum Nabi Nuh
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).
2. Kaum Nabi Hud
Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).
3. Kaum Nabi Saleh
Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).
4. Kaum Nabi Luth
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu'araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).
5. Kaum Nabi Syuaib
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu'araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).
6. Firaun
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).
7. Ashab Al-Sabt
Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A'raaf: 163).
8. Ashab Al-Rass
Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib.
Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).
9. Ashab Al-Ukhdudd
Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9).
10. Ashab Al-Qaryah
Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).
11. Kaum Tubba'
Tubaa' adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37).
12. Kaum Saba
Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma'rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).
HIKMAH DZIKIR
Hikmah Keutamaan Dzikir
Seseorang telanjang dan melompat, ke dalam air untuk lari dari serbuan lebah,Lebah-lebah mengitarinya, manakala ia menyembulkan kepala,Segeralah lebah-lebah menyerbunya,Air adalah (perumpamaan) zikir kepada Tuhan,Dan lebah adalah ingatan kepada wanita ini dan lelaki itu,Isilah dadamu dengan air zikir dan bersabarlah,Sehingga kau terbebas dari pikiran masa lalu dan segala was-was,Setelah itu kau sepenuhnya akan tenggelam ke dalam air,Dari kaki hingga kepala.
(Rumi, Matsnawi IV 435-439)
Firman Allah Ta’ala,
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (Al-Ankabut: 45).[ Maknanya: yang paling agung di dalam shalat adalah dzikir, atau dzikrullah adalah lebih agung dari segala apa pun di dunia ini, atau dzikir Allah kepadamu (Allah menyebut tentang kamu) adalah lebih besar daripada dzikirmu kepadaNya. Semuanya benar, tidak bertentangan, pent.].
Firman Allah Ta’ala,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (Al-Baqarah: 152)
Dan Firman Allah Ta’ala,
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaffat: 143-144).
Firman Allah Ta’ala,
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya’: 20).
(12) Kami meriwayatkan dalam ash-Shahihain milik dua imam ahli hadits Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Bukhari al-Ju’fi dengan wala’ dan Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi dengan sanad mereka berdua dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu -namanya menurut pendapat yang shahih dari tiga puluh pendapat adalah Abdurrahman bin Shakhr, sahabat dengan riwayat hadits terbanyak- berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ.
“Ada dua kalimat, yang ringan di lisan, berat pada timbangan, dan dicintai oleh Allah yang Maha Rahman yaitu: Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, Mahasuci Allah yang Mahaagung.” [ Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat, Bab Fadhl at-Tasbih, 11/206; no. 6406; dan Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab Fadhl at-Tahlil Wa at-Tasbih Wa ad-Du'a', 4/2072, no. 2694. pent.].
Hadits ini adalah hadits terakhir dalam Shahih al-Bukhari.
KEKUATAN DO’A
KEKUATAN DO’A
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa-sanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepa-daKu.” (Al-Baqarah: 186).
Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Al-Mukmin: 60).
Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ، إِلاَّ آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا، أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: إِذًا نُكْثِرُ؟ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ
“Tidaklah seorang Muslim di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah dengan sebuah doa melainkan Allah pasti mengabulkan permintaannya, atau Dia menyingkirkan keburukan darinya (sebagai gantinya) dengan sebesar permintaannya (dari sisi kualitas dan kuantitas), selama dia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau pemutusan silaturrahim’. Maka seorang laki-laki dari suatu kaum berkata, ‘Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa)’. Nabi menjawab, ‘Allah (memiliki karunia) lebih banyak (daripada permintaanmu)’.”
Takhrij Hadits: Hasan Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad 5/329; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da’awat, Bab Fi Intizhar al-Faraj, 5/566, no. 3573; Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya`5/137; al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, no. 1131; al-Baghawi, no. 1387: dari jalur Muhammad bin Yusuf, Ibnu Tsauban menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Makhul, dari Jubair bin Nufair, dari Ubadah dengan hadits tersebut.
Abu Nu’aim berkata, “Zaid bin Waqid dan Hisyam bin al-Ghaz meriwayatkannya dari Makhul semisalnya”. Saya berkata, “Ath-Thabrani meriwayatkan mutaba’ah ini dalam al-Mu’jam al-Ausath, no. 147, dan juga dalam ad-Du’a`, no. 86 dari jalur Maslamah bin Ali dari keduanya. Maslamah ini adalah seorang yang matruk (ditinggalkan) maka mutaba’ahnya tidak bernilai sedikit pun. Al-Baghawi mengatakan hadits tersebut, “Hadits hasan gharib”. Saya berkata, “Disebabkan oleh Ibnu Tsauban maka di dalamnya terdapat pembicaraan, tapi ia tidak turun dari derajat hasan. At-Tirmidzi berkata, dan kemudian disepakati oleh an-Nawawi dan al-Albani, “Hadits hasan shahih”. Saya berkata, “Hasan shahih dengan syahidnya berikutnya.”
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
Dan diriwayatkan oleh al-Hakim Abu Abdillah dalam al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain dari riwayat Abu Sa’id al-Khudri, dan dia menambahkan di dalamnya,
أَوْ يَدَّخِرَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلَهَا.
“….atau Dia menyimpankan pahala semisal untuknya.”
Takhrij Hadits: Shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 29161; Ahmad 3/18; Abu Ya’la, no. 1019; al-Hakim 1/493; al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, no. 1128 dan 1130: dari beberapa jalur, dari Ali bin Ali ar-Rifa’i, dari Abu al-Mutawakkil an-Naji, dari Abu Sa’id al-Khudri dengan hadits tersebut.Sanad ini hasan disebabkan oleh ar-Rifa’i, pada dirinya terdapat pembicaraan, tapi haditsnya tidak turun dari derajat hasan. Hadits tersebut telah dimutaba’ah, maka ath-Thabrani telah meriwayatkannya dalam al-Mu’jam ash-Shaghir, no. 1025: dari jalur Sa’id bin Basyir, dari Qatadah, dari Abu al-Mutawakkil. Dan Sa’id adalah seorang yang dhaif, apalagi haditsnya dari Qatadah. Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam asy-Syu’ab, no. 1129: dari jalur Sulaiman at-Taimi, dari Abu ash-Shiddiq an-Naji, dari Abu Sa’id. Dan yang zahir bahwa dia tidak terjaga sebagaimana yang dikatakan oleh al-Baihaqi. Akan tetapi hadits tersebut shahih dengan terkumpulnya jalur-jalur ini. Al-Hakim dan al-Albani menshahih-kannya. Al-Mundziri dan al-Haitsami menguatkannya.
Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُوْلَ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.
“Doa akan dikabulkan untuk salah seorang dari kalian selama tidak tergesa-gesa (minta dikabulkan). Di mana dia berkata, ‘Saya telah berdoa, namun belum dikabulkan untukku’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab ad-Da’awat, Bab Yustajabu li al-’Abdi Ma Lam Ya’jal, 11/140, no. 6340; dan Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab Yustajabu li ad-Da’i Ma Lam Ya’jal, 4/2095, no. 2735.)
Sumber: dikutib dari Buku “Ensiklopedia Dzikir dan Do’a Al-Imam An-Nawawi Takhrij & Tahqiq: Amir bin Ali Yasin. Diterbitkan oleh: Pustaka Sahifa Jakarta. Oleh: Abu Nabiel)
Surat Cinta dari AYAH dan IBU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Keridhaan ALLAH, bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan ALLAH, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua” (HR. at-Tirmidzi)
Jika pintu surga berada di bawah telapak kaki ibu,
maka sudah sepantasnya jika kunci pintu surga itu berada di tangan ayah yang lelah bekerja..
Bagiku,, Ayah.. Ibu.. adalah bagian terbesar dalam tujuan hidupku, setelah ALLAH dan Rasul-NYA..
mereka juga turut andil dalam “alasan” mengapa saat ini aku berada disini!
Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta yang tak terbatas, meski terkadang cinta itu tak terbalas..
Suatu waktu dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang kesepian. Merindu kita yang mulai asik dengan diri kita sendiri. Kita mulai membangun cara pandang berbeda dan bahkan mencari alasan yang terlalu rumit untuk merasa tidak memahami seorang ibu secara apa adanya. Di usia kita yang belum terlalu tegak menjadi lelaki atau perempuan dewasa, ibu kita masih dan akan selalu berkata, “Hati-hati nak”, dan kita selalu menjawab, “Sudah ngerti bu, aku sudah besar.”
Suatu ketika dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang mencintai kita dengan segenap perasaannya yang dulu, tidak berubah. Sama kuatnya, sama tulusnya.Ayah adalah ayah yang tidak memberitahuku bagaimana cara hidup, dia hidup dan membiarkan aku melihat bagaimana cara dia melakukannya..
Ayah selalu punya cara sendiri dalam mencintai kita..
Di balik diamnya ada cinta, cinta yg menyampaikan begitu banyak makna.. dan tugas kitalah untuk mencari makna-makna tersebut, agar kita bisa menemukan bahwa “Diam itu Benar-benar Cinta”..
Bahkan cinta yang luar biasa tulus dan sangat dalam..
Kita tak pernah tau.. bahwa setiap ayah selalu merasa rezekinya ada, sebagian karena kita anaknya......Sementara kita jarang sekali menyadari, bahwa rezeki kita ada, lantaran ada orang tua kita......
Akan tiba masa dimana beliau, Ayah dan Ibu kita memasuki masa senja..
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya) : “ Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. al-Isra : 23-24)
Masa yang pasti akan dilewati oleh semua ayah dan ibu, dimana saja. Meski kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya memang tak dapat dihentikan sang waktu. Namun sebagai manusia, kekuatan beliau tentu tidak akan abadi. Pada akhirnya Ayah yang kuat, Ibu yang lembut harus melalui masa yang belum pernah dibayangkan selama ini.
Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya berubah menjadi sengau, tak mampu menyetabilkan nada yang keluar. Semakin memasuki masa senja, bisa jadi kepekaan beliau semakin bertambah. Menjadi lebih mudah tersinggung, lebih mudah melampiaskan amarahnya, lebih mudah tersentuh hatinya hanya oleh kata-kata atau ucapan, beliau jadi agak sensitif.
SEPUCUK SURAT DARI AYAH DAN IBU
Anak ku...
Ketika aku semakin tua, aku harap kamu memahami & memiliki kesabaran untukku
Suatu ketika aku memecahkan piring Atau menumpahkan sup diatas meja karna penglihatanku berkurang ,
Aku harap kamu tidak memarahiku
Orang tua itu sensitif..
Selalu merasa bersalah bila
kamu berteriak
Ketika pendengaranku semakin memburuk dan tidak bisa mendengar apa yang kamu ucapkan , Aku harap kamu tidak memanggilku "Tuli! "
Mohon ulangi saja apa yg kau ucapkan atau mungkin menuliskannya untukku
Maaf anak ku , aku semakin tua
Ketika lututku mulai melemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantu ku bangun,
Seperti bagaimana aku selalu membantumu saat kamu masih kecil untuk belajar berjalan
Tolong jangan mengejekku atau bosan mendengarku, Ketika aku mengulangi apa yg aku katakan terus menerus, Aku harap kamu terus mendengarkan aku, Apakah kamu masih ingat , ketika kamu masih kecil dan kamu menginginkan sebuah balon? Kau mengulangi apa yg kau mau sampai berulang - ulang untuk memilikinya....
Maafkan juga bau ku, tercium seperti orang yg sudah tua
Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi, tubuhku lemah
Orang tua itu rentan.. Mudah sakit apabila terkena dingin. Aku harap aku tidak terlihat kotor untukmu
Aku berharap kamu bisa mengerti ketika aku rewel.
Ini adalah bagian dari menjadi tua. Kamu akan mengerti apabila kamu sudah tua nanti
Dan apabila kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara. Bahkan untuk beberapa menit
,Aku selalu sendiri sepanjang hidup semasa tuaku dan tidak memiliki seseorang pun untuk diajak bicara
Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan
Bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceriitaku,
aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mendengarkan apapun yg kamu ceritakan tentang mainanmu
Ketika saatnya tiba..
Dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit
Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku
MAAF jika aku sengaja mengompol atau membuat berantakan,
Aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku
Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama.. Ketika waktu kematian ku datang, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikan aku kekuatan untuk menghadapi kematian
Janganlah sedih pada saat itu anakku!!!
Kematian bukan hal yang menyakitkan..
Dan kamu belum tahu rasa kematian seperti apa.
Jika setelah itu kamu membuka lemari,
Dan menemui bekas baju-bajuku..
Simpanlah.. Karna aku ingin kamu terus mengingatku..
Dan jangan khawatir nak,
Ketika aku bertemu pada sang pencipta
Aku akan berbisik pada-Nya untuk selalu memberimu BERKAH karna kamu menyayangi Ayah dan ibumu...
Terima kasih atas segalanya nak...
Kami mecintaimu dengan kasih yg berlimpah..
Disini kami akan selalu melindungimu...
We love you
With much love
Mom & Dad






