Tampilkan postingan dengan label HADITS. Tampilkan semua postingan
Sikap Dan Perilaku Istri kepada Suami Yang Dilarang Islam
Larangan Islam bagi istri kepada suami :
1. Tidak mentaati perintah suami dalam kebaikan
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki." (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
2. Menolak atau menunda permintaan suami dalam berhubungan intim
Sabda Rasulullah SAW,
Dalam haditsnya yang lain Rasulullah bersabda,
3. Tidak menjaga harta suami
4. Keluar rumah tanpa izin suami
Dalilnya adalah perkataan Sayidina Ali kwj di atas
5. Selalu meremehkan kebaikan yang dibuat suami kepada istri
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
6. Minta cerai tanpa sebab
Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
7. Tidak bersyukur atas segala pemberian suami
Nabi SAW bersabda maksudnya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."
8. Berkata kotor kepada suami, pamer aurat pada orang lain dan tidak berbakti pada suami
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
Empat perempuan yang berada di Neraka yaitu :
- Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinya (memarahinya).
- Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
- Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
- Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.
Ujian dan Cobaan: Penggugur Dosa, Penambah Kebaikan
Namun, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).
Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita. Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita. Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt. Semakin berat cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika berhasil melaluinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).
Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu melewatinya. Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Dalih Dasar Haramnya Percaya Ramalan
DALIL DASAR HARAMNYA PERCAYA RAMALAN
- QS An Naml :65
ﻗُﻞْ ﻻ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ
Artinya: Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di
langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak
mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
- QS Al-Araf :188
ﻗُﻞْ ﻻ ﺃَﻣْﻠِﻚُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻲ ﻧَﻔْﻌﺎً ﻭَﻻ ﺿَﺮّﺍً ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ
ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﻟَﺎﺳْﺘَﻜْﺜَﺮْﺕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﻣَﺴَّﻨِﻲَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀُ ﺇِﻥْ ﺃَﻧَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻧَﺬِﻳﺮٌ ﻭَﺑَﺸِﻴﺮٌ
ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ
Artinya: Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik
kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan
sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah
aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan
aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak
lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita gembira bagi orang-orang yang beriman".
- QS Al-Jin :26-27
ﻋَﺎﻟِﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻓَﻼ ﻳُﻈْﻬِﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺒِﻪِ ﺃَﺣَﺪﺍً . ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦِ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝٍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻳَﺴْﻠُﻚُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻪِ ﺭَﺻَﺪﺍً
Artinya: (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui
yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan
kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka
sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga
(malaikat) di muka dan di belakangnya.
- QS Al Mulk :5
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑِﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣﺎً ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ ﻭَﺃَﻋْﺘَﺪْﻧَﺎ
ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﺴَّﻌِﻴﺮِ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menghiasi
langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan
Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat
pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka
siksa neraka yang menyala-nyala.
- Hadits sahih riwayat sejumlah perawi hadits
dalam kitab-kitab hadits mereka yaitu Sahih
Muslim VII/37; Sunan Abu Daud IV/21; Musnah
Ahmad IV/68; Sunan Tirmidzi I/242; Sunan Ibnu
Majah I/404. Teks hadits sbb:
ﻣَﻦْ ﺃﺗﻰ ﻋَﺮَّﺍﻓًﺎ ﻓَﺴَﺄَﻟﻪُ ﻋَﻦْ ﺷَﺊٍ ﻟﻢ ﺗﻘْﺒَﻞ ﻟَﻪُ ﺻَﻼﺓُ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦَ ﻟﻴﻠﺔً
Artinya: Barnagsiapa yang datang ke tukang
ramal lalu mempercayai apa yang dikatakan maka
shalatnya tidak diterima selama 40 hari.
Teks hadits riwayat Abu Daud sbb:
ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ
Teks hadits versi Ahmad dan perawi hadits lain
(Ashabus Sunan) dari Abu Hurairah sbb:
ﻣﻦ ﺃﺗﻰ ﻛﺎﻫﻨﺎ ﺃﻭ ﻋﺮﺍﻓﺎ ﻓﺼﺪﻗﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻘﺪ ﻛﻔﺮ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ
Artinya: Barangsiapa yang mendatangi seorang
dukun atau peramal, lalu dia percaya pada apa
yang dikatakan maka dia telah mengingkari
(kufur) syariah Allah yang diturunkan pada Nabi
Muhammad s.a.w.
- Hadits sahih riwayat Muslim no. 537
ﻋﻦ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔَ ﺑﻦِ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺴُّﻠﻤﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : « ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ
ﺍﻟﻠﻪِ ! ﺃُﻣُﻮﺭًﺍ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺼْﻨَﻌُﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ، ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺄْﺗِﻲ ﺍﻟﻜُﻬَّﺎﻥَ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻼَ
ﺗَﺄْﺗُﻮﺍ ﺍﻟﻜُﻬَّﺎﻥَ»
Artinya: Ya Rasulullah, dulu kami banyak
melakukan sesuau di masa Jahiliyah. Dulu kami
biasa datang ke tukang ramal. Nabi bersabda:
Jangan datang ke dukun tukang ramal.
- Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah
ﻣﻦ ﺍﻗﺘﺒﺲ ﺷﻌﺒﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺠﻮﻡ، ﺍﻗﺘﺒﺲ ﺷﻌﺒﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺤﺮ، ﺯﺍﺩ ﻣﺎ ﺯﺍﺩ
Artinya: Barangsiapa yang mengambl bagian dari
ilmu perbintangan, maka ia telah mengambil
bagian dari ilmu sihir.
